Selasa, 14 Juni 2011

Hadits Jariyah


Hadits Jariyah

Benarkah Allah berada di langit berdasarkan hadits shahih ?

Sumber tulisan : http://alnof.multiply.com/journal/item/145

Sebagian kawan kita yang menyatakan Allah berada di langit atau bersemayam di atas `arsy berdalil dengan sebuah hadits yang menceritakan tentang kisah seorang budak wanita yang berdialog dengan Rasul Saw.. Dalam hadits tersebut Rasul Saw. melakukan dialog untuk mengetahui keimanan atau indikasi yang menunjukkan bahwa budak wanita yang dimaksud sudah beriman atau belum? Budak dimaksud apakah telah memenuhi persyaratan untuk bisa menjadi kafarah, berupa pembebasan seorang budak beriman bagi muslim yang melanggar perbuatan tertentu di dalam syariat atau tidak?!

Pada penghujung sebuah hadits riwayat Imam Muslim dengan sanad Mu`awiyah bin Hakam direkamkan dialog antara Rasul Saw. dengan budak seperti redaksi berikut:
Rasulullah Saw. berkata: “datangkanlah ia kesini”. Kemudian akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapaan beliau. Beliau kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah” Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia, karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)

Secara umum jumhur umat menolak hadits ini, disebabkan karena faktor:
1. Hadits ini bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat secara naqli dan `aqli[1].
1. Diantara dalil naqli:
a. QS: An Nahl: 17
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?

b. QS: Al Syura: 11:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia
c. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Rasul Saw. ketika menanyakan atau menguji keimanan seseorang selalu dengan menggunakan syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan syahadat Muhammad adalah utusan Allah. Hadits seperti ini mencapai kapasitas mutawatir!

2. Dalil `aqly
a. Allah mahasuci dari tempat dan bertempat pada sesuatu apapun dari makhluqNya. Allah mahasuci dari waktu dan pengaruh ruang waktu. Karena keduanya adalah milik Allah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al Razi di dalam menafsirkan firman Allah QS: Al An`am: 12: “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”.”
Ayat ini menjelaskan bahwa tempat dan semua yang berada pada tempat adalah milik Allah.

Dan firman Allah QS: Al An`am: 13:
“Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari.”
Ayat ini menjelaskan bahwa waktu yang bergulir dan semua yang masuk ke dalam ruang waktu adalah kepunyaan Allah,
bukan sifatNya.

b. Akal manusia secara pasti dan tegas menyatakan bahwa Allah, al Khaliq pasti beda dengan makhluqNya. Bila makhluq bertempat/tidak terlepas dari tempat tertentu, maka Allah tidak bertempat tertentu. Karena Allah beda dengan makhluqNya. Bila makhluq berada atau dipengaruhi oleh dimensi waktu, sedangkan Allah tidak!

c. Allah bersifat qadim, oleh karena itu Allah tidak berada pada ruang tempat tertentu, baik sebelum diciptakan `arsy dan langit ataupun setelahnya. Apabila Allah berada di atas langit atau di atas `arsy setelah Allah menciptakan keduanya, berarti Allah memiliki sifat hadits, karena keberadaan Allah di atas langit dan `arsy telah didahului oleh ketiadaan langit dan `arsy dan Allah tidak berada di atas langit dan `arsy sebelum diciptakan keduanya. Setelah ada, baru kemudian bersemayam diatasnya. Ini artinya kita menyifati Allah dengan sifat hadits. Sedangkan secara kaidah dinyatakan: bahwa semua yang bisa dihinggapi oleh sifat hadits adalah hadits.

2. Hadits ini merupakan hadits yang menjadi perbincangan para ulama sejak dahulu dan sampai kini, yang tidak diterima oleh sebagian orang karena bid`ah yang mereka lakonkan[2]. Para hafiz di bidang hadits dan para pakar hadits yang mu`tabar sepanjang sejarah sepakat menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah!

Mari kita kaji lebih lanjut hadits yang menceritakan tentang kisah budak wanita ini secara komprehensif, komparatif dan kritis.

Perhatikanlah redaksi hadits di dalam Sahih Muslim secara lengkap:

روى عن معاوية بن الحكم السلمي قال: بينا أنا أصلي مع رسول الله صلى الله عليه و سلم إذ عطس رجل من القوم فقلت يرحمك الله فرماني القوم بأبصارهم فقلت واثكل أمياه ما شأنكم ؟ تنظرون إلي فجعلوا يضربون بأيديهم على أفخاذهم فلما رأيتهم يصمتونني لكني سكت فلما صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فبأبي هو وأمي ما رأيت معلما قبله ولا بعده أحسن تعليما منه فوالله ما كهرني ولا ضربني ولا شتمني قال إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن أو كما قال رسول الله صلى الله عليه و سلم قلت يا رسول الله إني حديث عهد بجاهلية وقد جاء الله بالإسلام وإن منا رجالا يأتون الكهان قال فلا تأتهم قال ومنا رجال يتطيرون قال ذاك شيء يجدونه في صدورهم فلا يصدنهم (قال ابن المصباح فلا يصدنكم ) قال قلت ومنا رجال يخطون قال كان نبي من الأنبياء يخط فمن وافق خطه فذاك قال وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب [ الذئب ؟ ؟ ] قد ذهب بشاة من غنمها وأنا رجل من بني آدم آسف كما يأسفون لكني صككتها صكة فأتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فعظم ذلك علي قلت يا رسول الله أفلا أعتقها ؟ قال ائتني بها فأتيته بها فقال لها أين الله ؟ قالت في السماء قال من أنا ؟ قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة

Diriwayatkan dari Mu`awiyah Bin Hakam Al Sulamiy: Ketika saya shalat bersama Rasulullah Saw. ada seorang laki-laki yang bersin, lantas saya mendo`akannya dengan mengucapkan yarhamukaLlah. Semua orang yang shalat lantas melihat kepadaku dan aku menjawab: “Celaka kedua orangtua kalian beranak kalian, ada apa kalian melihatku seperti itu?!” Kemudian mereka memukulkan tangan mereka ke paha-paha mereka. Aku tahu mereka memintaku untuk diam, maka akupun diam. Ketika telah selesai Rasul Saw. menunaikan shalat, demi ayah dan ibuku, aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang guru yang lebih baik cara mendidiknya daripada Rasul saw.. Demi Allah, beliau tidak menjatuhkanku, tidak memukulku, dan juga tidak mencelaku. Beliau hanya berkata: “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada perkataan manusia di dalamnya. Di dalam shalat hanyalah terdiri dari tasbih, takbir dan bacaan al Qur`an.” Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul saw.. Aku kemudian menjawab: “Wahai Rasul Saw. sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang islam. Dan sesungguhnya diantara kami masih ada yang mendatangi para dukun. Beliau berkata: “Jangan datangi mereka!” Aku kemudian menjelaskan bahwa diantara kami masih ada yang melakukan tathayyur (percaya terhadap kesialan dan bersikap pesimistis). Beliau mengatakan: “Itu hanyalah sesuatu yang mereka rasakan di dalam diri mereka, maka janganlah sampai membuat mereka berpaling (Kata Ibnu Shabbah: maka janganlah membuat kalian berpaling). Kemudian ia melanjutkan penjelasan: Aku berkata: dan sesungguhnya diantara kami ada yang menulis dengan tangan mereka. Rasul Saw. berkata: dari kalangan Nabi juga ada yang menulis (khat) dengan tangan, barangsiapa yang sesuai apa yang mereka tulis, maka beruntunglah ia. Dia kemudian berkata: saya memiliki seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing di sekitar bukit Uhud dan Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku memperhatikan ia mengembala, ketika itu seekor srigala telah memangsa seekor kambing. Aku adalah seorang anak manusia juga. Aku bersalah sebagaimana yang lain. Kemudian aku menamparnya (budak wanita) dengan sekali tamparan. Maka kemudian aku mendatangi Rasul Saw.. Rasul Saw. menganggap itu adalah suatu hal yang besar bagiku. Akupun berkata: “Apakah aku mesti membebaskannya?” Rasul Saw. menjawab: “Datangkanlah ia kesini!”. Kemudian akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapan Rasul Saw.. Rasul Saw. kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia (budak wanita) menjawab: “Di langit”, Rasul Saw. bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu Rasul Saw. bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia adalah seorang yang beriman” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting kepada kita, diantaranya
1. Sekelumit pelajaran yang bisa dipetik dari hadits, diantaranya;
a. Rasul Saw. mencontohkan metode mengajar yang tauladan.
b. Hadits ini menceritakan tentang masalah membayar kafarah berupa pembebasan seorang budak yang disyaratkan mesti beriman. Rasul Saw. memastikan apakah budak yang akan dibebaskan sudah beriman?!
c. Di dalam hadits menceritakan tentang status periwayat hadits yang baru masuk islam.
d. Di dalam hadits menceritakan keadaan kaum si periwayat hadits.
e. Di dalam hadits diceritakan cara Rasul Saw. mengetahui bahwa si budak seorang beriman atau bukan? Berdasarkan indikasi yang nampak oleh Rasul Saw..[3]

2. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim pada bab “Haram berbicara di dalam shalat”. Beliau tidak meriwayatkan pada bab “iman”, bab “kafarah dengan pembebasan budak beriman”, dan juga bukan pada bab “pembebasan budak”. Artinya hadits ini beliau kelompokkan ke dalam masalah-masalah `amaliyah, bukan bersifat masalah akidah. Karena hadits ini tidak cukup kuat untuk berdalil di dalam masalah akidah.

3. Imam Nawawi dalam menjelaskan penghujung hadits yang merupakan dialog antara Rasul Saw. dengan budak wanita, mengatakan bahwa ulama memiliki banyak persepsi dalam memahaminya, secara ringkas ulama memahaminya dengan 2 metode;
a. Mengimani hadits sebagaimana yang disampaikan oleh Rasul Saw. tanpa mengkaji lebih jauh makna yang dimaksud dan meyakini bahwa tidak ada yang semisal dengan Allah sesuatupun serta mensucikan Allah dari segala sifat makhluq.
b. Takwil dengan makna sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah.[4]

Berkenaan dengan hadits Muslim ini, Imam Baihaqi berkomentar di dalam kitabnya Al Asma` Wa Al Shifat[5]:

وهذا صحيح ، قد أخرجه مسلم مقطعا من حديث الأوزاعي وحجاج الصواف عن يحيى بن أبي كثير دون قصة الجارية ، وأظنه إنما تركها من الحديث لاختلاف الرواة في لفظه . وقد ذكرت في كتاب الظهار من السنن مخالفة من خالف معاوية بن الحكم في لفظ الحديث

“Hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara terpotong dari hadits yang bersumber dari Auza`ie dan Hajjaj al Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir tanpa menyebutkan tentang kisah budak wanita. Saya mengira ia meninggalkan kisah budak wanita tersebut karena terjadinya perbedaan riwayat pada redaksinya dan saya juga menyebutkan hadits ini pada bab zhihar di dalam kitab sunan (al kubra). Riwayat yang ada berbeda dengan riwayat para periwayat yang bertentangan dengan riwayat Muawiyah Bin Hakam dari segi redaksi hadits.”

Dari pernyataan Imam Baihaqi ini dipahami secara jelas bahwa pemaparan kisah budak wanita yang merupakan bagian dari hadits[6];
1. Tidak terdapat di dalam sahih Muslim menurut versi Imam Baihaqi.
2. Bahwa kisah ini terjadi perbedaan riwayat dari segi redaksi hadits.

Penjelasan lebih lanjut dari pernyataan Imam Baihaqi;
1. Naskah Sahih Muslim tidak sama antara satu naskah dengan naskah yang lain tentang kisah budak wanita ini. Boleh jadi Imam Muslim menarik kembali hadits ini dan merevisinya pada periode selanjutnya serta menghapusnya atau redaksi hadits yang ada tidak ditemui pada naskah Sahih Muslim yang dimiliki oleh Imam Baihaqi[7]. Sebagaimana juga dilakukan oleh imam Malik di dalam kitab Muwatha` riwayat Laits, yang tidak menyebutkan redaksi “sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman”. Samahalnya dengan Imam Bukhari yang menyebutkan potongan hadits ini pada bab af`al al `ibad, dan hanya mengambil potongan yang berhubungan dengan masalah mendo`akan orang yang bersin, tanpa mengisyaratkan sedikit pun tentang masalah “Allah berada di langit”. Imam Bukhari meringkas hadits tanpa menyebutkan sebab beliau meringkasnya. Namun beliau tidak berpegang kepada kesahihan hadits tentang budak wanita ini, karena melihat perbedaan riwayat tentang kisah ini yang menunjukkan bahwa periwayat hadits tidak kuat hafalan (dhabit) dalam periwayatan.

2. Terjadinya perbedaan riwayat antara riwayat yang bersumber dari Mu`awiyah Bin Hakam dengan riwayat yang lain. Bahkan menurut DR. Umar Abdullah Kamil terjadi perbedaan riwayat yang bersumber dari Mu`awiyah bin Hakam sendiri. Sebagaimana penjelasan berikut:

DUA RIWAYAT YANG BERSUMBER DARI MU`AWIYAH BIN HAKAM:

RIWAYAT PERTAMA[8]
Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Muslim diatas dengan menggunakan redaksi:

فقال لها: أين الله ؟ قالت: في السماء. قال: من أنا ؟ قالت: أنت رسول الله. قال: أعتقها فإنها مؤمنة

Beliau (Rasul Saw.) kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia, karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)

RIWAYAT KEDUA
أوردها الذهبى وذكر سندها الحافظ المزى من طريق سعيد بن زيد عن توبة العنبرى عن عطاء بن يسار قال حدثنى صاحب الجارية نفسه -يشير إلى معاوية بن الحكم- وذكر الحديث وفيه: ( فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده إليها وأشار إليها مستفهما: (من فى السماء؟) قالت: الله

Diriwayatkan oleh Imam Al Dzahaby dan ia menyebutkan bahwa pada sanad riwayat ini terdapat al Hafiz Al Mizziy dari jalur Sa`id bin Zaid dari Taubah al `Anbarry dari Atha` bin Yassar, ia berkata: disampaikan kepadaku oleh pemilik budak -mengisyaratkan kepada Mu`awiyah Bin Hakam- dan menyebutkan hadits, dan di dalam hadits terdapat redaksi: kemudian Nabi Saw. menjulurkan tangannya kepadanya (budak) seraya mengisyaratkan pertanyaan, “siapa di langit?” ia menjawab: “Allah”

Untuk mengkaji lebih jauh tentang jalur-jalur hadits secara komprehensif, silahkan rujuk kitab al `Uluww, Imam Dzahaby, Kitab Tauhid, Ibnu Khuzaimah dan syarah-syarah dari kitab Al Muwatha`, Imam Malik.[9]

Sebagaimana diketahui pada riwayat ini, Rasul Saw. tidak mengatakan “dimana Allah?” dan juga tidak mengatakan “siapa yang ada di langit?”, namun Rasul Saw. hanya menggunakan bahasa isyarat! Perkataan Rasul Saw dan budak wanita pada kedua riwayat merupakan pengungkapan dan redaksi dari periwayat hadits dan pemahamannya, bukan dari Rasul Saw.![10]

Sanad hadits ini insya Allah berderajat hasan. Sa`id Bin Zaid merupakan periwayat hadits yang tsiqah dan beliau merupakan salah seorang rijal Imam Muslim. Beliau juga dinyatakan tsiqah oleh: Ibnu Ma`in, Ibnu Sa`ad, Al `Ajaly dan Sulaiman Bin Harb. Imam Bukhari dan Al Darimy berkomentar tentangnya: “Ia adalah seorang yang sangat bisa dipercaya dan ia adalah seorang yang hafiz”. Meskipun Yahya Bin Sa`id dan yang lainnya menyatakannya sebagai seorang periwayat yang dha`if. Oleh karena itu hadits yang diriwayatkannya tidak akan turun, kecuali kepada derajat hasan.

Pada riwayat pertama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat Hilal Bin Ali Bin Usamah (Hilal Bin Abi Maimunah). Abu Hatim berkomentar tentangnya: “Beliau merupakan seorang syaikh yang ditulis hadits-haditsnya”. Imam Nasa`i juga mengomentari: “tidak apa-apa dengannya, artinya sanad darinya adalah berderajat hasan”. Sebagaimana juga diisyaratkan oleh Al Hafiz Ya`cub Bin Sofyan Al Qasawy. Al Hafiz Ibnu `Abdil Barr pun berkomentar senada dengan itu.[11]

Dari dua riwayat ini tidak bisa dielakkan bahwa terjadi idlthirab (keraguan karena banyak versi) di dalam riwayat dan tentang kepastian adanya lafaz “dimana Allah?” Beghitu juga dengan pernyataan: “berada di langit”. Keduanya merupakan redaksi yang bersumber dari periwayat hadits.

Sangat perlu dipahami bahwa periwayat hadits, Mu`awiyah Bin Hakam bukanlah seorang ulama, bukan seorang fuqaha di kalangan sahabat serta jarang menyertai Rasul Saw. sehingga tidak mempelajari banyak ilmu secara lebih mendalam. Bahkan sebagaimana disebutkan di dalam riwayat hadits pada sahih Muslim di awal, “saya baru saja terlepas dari kaum jahiliyah dan masuk islam”. Ketika itu beliau tidak tahu bahwa menjawab (mendo`akan) orang yang bersin dapat menyebabkan batal shalat dan berbicara dengan orang lain juga membatalkan shalat. Oleh karena itu beliau belum memahami syariat -yang di dalamnya termasuk masalah tauhid- secara lebih matang.

Tentang keadaan periwayat hadits, Muawiyah Bin Hakam ini, akan semakin jelas ketika kita melakukan komparasi dengan riwayat hadits lain, yang diriwayatkan bukan melalui jalur beliau.[12]

Selanjutnya mari kita perhatikan pemaparan Imam Baihaqi:
Ada riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitab sunan kubra di dalam Bab zhihar pada sub bab “membebaskan budak yang bisu ketika mengisyaratkan bahwa dirinya telah beriman”.

Riwayat ini dari jalur `Aun bin Abdullah dari Abdullah bin Uthbah dari Abu Hurairah;

عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ عِتْقَ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَقَالَ لَهَا :« أَيْنَ اللَّهُ؟ ». فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ بِإِصْبَعِهَا فَقَالَ لَهَا :« فَمَنْ أَنَا؟ ». فَأَشَارَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَإِلَى السَّمَاءِ تَعْنِى : أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ ».

Dari Abi Hurairah Ra. bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw dengan seorang budak wanita yang berkulit hitam dan ia berkata kepada Nabi Saw: Wahai Rasulullah Saw., sesungguhnya saya memiliki kewajiban untuk membebaskan seorang budak beriman. Kemudian Rasul Saw. berkata kepadanya (budak wanita): “dimana Allah?” kemudian ia (budak wanita) memberi isyarat ke arah langit dengan jarinya. Rasul Saw. kemudian bertanya lagi kepadanya “dan saya siapa?” Ia kembali mengisyaratkan kepada Nabi Saw. dan selanjutnya menunjuk ke arah langit, maksudnya “engkau adalah seorang utusan Allah”. Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada laki-laki tadi: “Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman”.[13]

Jika melihat kepada keumuman riwayat, ini sama dengan riwayat yang sebelumnya, menceritakan tentang kisah yang sama dan di dalam riwayat juga disebutkan bahwa ada redaksi:

فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده اليها وأشار اليها مستفهما وقال (من فى السماء) قالت: الله

Berarti dialog terjadi dengan bahasa isyarat dari kedua sisi dan redaksi yang didakwakan sebenarnya tidak ada. Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali menambahkan bahwa budak wanita ini adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit. Dialog ini dilakukan oleh Rasul Saw. karena para sahabat menyangka budak wanita sebagai seorang penyembah berhala di rumah-rumah penyembahan berhala. Rasul Saw. ingin mengetahui kebenaran prasangka mereka terhadap keyakinan sang budak, maka sang budak memberitahukan kepada mereka keyakinannya bahwa sembahannya bukanlah berhala-berhala yang ada di rumah-rumah penyembahan berhala, sebagaimana yang disangkakan terhadapnya[14]. Isyarat ini selain menujukkan bahwa budak adalah seorang yang bisu juga mengisyaratkan bahwa si budak adalah seorang non arab sebagaimana disebutkan oleh sebagian riwayat. Isyarat ke langit ini juga adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh orang awam dan mereka tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan Tuhan mereka. Jikalaupun dialog ini benar terjadi sesuai dengan redaksi pada Sahih Muslim, maka Rasul Saw. menyetujui dialog ini sebagai perwujudan metode dakwah yang menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan akal mereka[15]

Bagaimana mungkin kita berpegang kepada riwayat yang menjadi perbincangan sepanjang sejarah ini dan realitanya menyatakan tidak adanya redaksi dari Rasul Saw. dan budak secara tegas dan pasti, seperti yang didakwakan?![16]

ANALISA RIWAYAT DARI JALUR SELAIN MU`AWIYAH BIN HAKAM YANG MENCERITAKAN KISAH YANG SAMA DENGAN MENGGUNAKAN REDAKSI أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ؟ “(APAKAH ENGKAU BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH?)”

RIWAYAT PERTAMA:
Bersumber dari periwayat Atha` bin Yassar -juga terdapat di dalam kitab Mushannaf Abdul Razzaq-:

عن ابن جريج قال: أخبرنى عطاء أن رجلا كانت له جارية فى غنم ترعاها وكانت شاة صفى- يعنى غزيرة فى غنمه تلك- فأراد أن يعطيها نبى الله صلى الله عليه وسلم فجاء السبع فانتزع ضرعها فغضب الرجل فصك وجه جاريته فجاء نبى الله صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له وذكر أنها كانت عليه رقبة مؤمنة وافية قد هم أن يجعلها إياها حين صكها، فقال له النبى صلى الله عليه وسلم: إئتنى بها! فسألها النبى صلى الله عليه وسلم: أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. وأن محمدا عبد الله ورسوله؟ قالت: نعم. وأن الموت والبعث حق؟ قالت: نعم. وأن الجنة والنار حق؟ قالت: نعم. فلما فرغ، قال: اعتق أو أمسك!

Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikhabarkan oleh `Atha`, bahwasanya seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang dipekerjakannya untuk mengembalakan kambingnya dan kambing-kambing ini merupakan kambing pilihan – yakni dari kambingnya yang banyak itu-. Kemudian ia bermaksud memberikannya (kambing tersebut) kepada Nabi Saw.. Lalu tibalah binatang buas dan menerkam kambingnya. Si laki-laki kemudian marah dan menampar wajah budak perempuan. Si lak-laki lantas mendatangi Nabi Saw. dan menyebutkan semua yang terjadi kepada Nabi Saw.. Ia juga menyebutkan bahwa ia mesti membebaskan seorang budak yang beriman sebagai kafarah dan ia bermaksud untuk menjadikan budak ini sebagai budak yang dibebaskannya ketika ia menamparnya itu. Maka Rasul Saw. berkata kepadanya: “Datangkanlah ia kepadaku!”. Rasul Saw. kemudian menanyainya (budak wanita): “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “kematian serta kebangkitan adalah sesuatu yang haq?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “surga dan neraka dalah haq?” Ia menjawab: “Iya”. Ketika selesai dialog tersebut, Rasul Saw. mengatakan: “Bebaskanlah ia atau tetap bersamamu!”[17]

Ini adala riwayat dengan sanad shahih, `aliy (paling dekat) kepada `Atha` (periwayat hadits Mu`awiyah bin Hakam), sebagaimana telah diketahui!

Ini adalah riwayat ketiga tentang hadits yang menceritakan kisah budak wanita yang diriwayatkan dari jalur Atha`.

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa dari segi redaksi, hadits diriwayatkan dengan redaksi:
1. Riwayat pertama diriwayatkan dengan redaksi: ” أين الله (dimana Allah)?”.
2. Sedangkan riwayat kedua diriwayatkan dengan redaksi: فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده إليها وأشار إليها مستفهما وقال (من فى السماء) قالت: الله (Menggunakan isyarat kepada si budak untuk bertanya, “siapa yang berada di langit?”).
3. Dan riwayat ketiga dengan redaksi “أَتَشْهَدِينَ (Apakah engkau bersaksi)?”.

Beghinilah kita lihat, redaksi hadits menyatakan bahwa Rasul Saw. tidak mengatakan “dimana Allah?”

Pembaca budiman cobalah perhatikan secara lebih seksama ada keraguan lagi yang ditemui pada riwayat lain tentang hadits budak perempuan ini, yang bersumber dari jalur selain periwayat Atha`. Bahkan riwayat berikut ini lebih meragukan lagi dibandingkan dengan riwayat `Atha` yang sedang kita bahas ini.

RIWAYAT KEDUA
- وَحَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ لَهُ سَوْدَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَإِنْ كُنْتَ تَرَاهَا مُؤْمِنَةً أُعْتِقُهَا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَعْتِقْهَا ».

Disampaikan kepadaku oleh Imam Malik: dari Syihab dari `Ubaidillah Bin Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud bahwasanya seorang laki-laki dari kalangan Anshar mendatangi Rasul Saw. ia memiliki seorang budak wanita berkulit hitam dan berkata: Wahai Rasul Saw. sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman, jikalau engkau melihatnya beriman, maka bebaskanlah ia. Maka Rasul Saw. berkata kepadanya (budak wanita) “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?! Ia menjawab: “Iya”. Rasul Saw. kemudian mengatakan : “bebaskanlah ia”[18]

Dan diriwayatkan oleh Imam Abdur Razaq[19], ia berkata: saya dikhabarkan oleh Ma`mar dari Zhuhry dari Ubaidillah dari seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan hadits ini. Dan dari jalurnya (Abdul Razaq) juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad[20], sebagaimana juga diriwayatkan oleh periwayat lain.

Adapun tentang `Ubaidillah Bin `Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud, maka beliau adalah salah seorang dari tujuh fuqaha di Madinah yang terkenal dan merupakan rijal ahli hadits yang enam juga. Selain itu, beliau termasuk seorang imam yang tsiqah. Berkata Al Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Al Taqrib tentang beliau: “Ia adalah seorang yang tsiqah, seorang faqih, diterima riwayatnya, kuat hafalannya, tidak diketahui bahwa beliau seorang yang mudallis dan riwayat beliau yang diriwayatkan dengan riwayat `an `anah bisa diterima sebagai riwayat yang bersumber dari pendengaran langsung (sama`). Dan ia benar-benar telah berkomentar tentang seorang laki-laki yang berasal dari kaum Anshar ini.

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya: “Sanadnya (hadits diatas) adalah sahih dan sifat jahalah (tidak dikenal) seorang sahabat yang melekat pada dirinya tidak mempengaruhi periwayatannya.”

Berkata Ibnu Abdil Barr, di dalam kitabnya Al Tamhid Lima Fie Al Muwatha` Min Al Ma`anie Wa Al Asanid: “Secara zhahir haditsnya adalah hadits mursal, akan tetapi dipercayai bahwa haditsnya adalah terjadi ketersambungan riwayat (ittishal), karena adanya pertemuan `Ubaidillah dengan sekelompok sahabat.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsami, di dalam kitab Majma` Al Zawaid: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para rijalnya adalah rijal yang sahih.”

Jelaslah bagi kita bahwa hadits tentang kisah budak wanita di dalam kitab Sahih Muslim dan pertanyaan Nabi kepadanya, minimal merupakan riwayat yang mudltharib secara redaksional. Jikalau kita ambil dengan cara mentarjih dengan berdasarkan syahid[21] dan indikasi yang mendukungnya, maka riwayat dengan redaksi: أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?” adalah riwayat yang rajih (terkuat). Karena riwayat ini sesuai dengan akidah islam secara yakin dan merupakan hadits yang paling sahih jika di pandang dari sisi sanad.

Jika dipandang dari seluruh sisi, kita tidak boleh mengambil riwayat yang mengatakan: “dimana Allah?” berdasarkan zahir (makna yang langsung dipahami) dari lafaznya. Oleh karena itu riwayat ini ditakwil oleh para ulama, seperti Imam Nawawi, Qadhi Ibnu Al `Arabi, al Bajiy dan masih banyak selain mereka.

Imam Nawawi berkata dalam menjelaskan tentang hadits mudltharib: Hadits mudltharib adalah: hadits yang diriwayatkan dengan pelbagai redaksi yang berbeda namun berdekatan. Apabila ditarjih salah satu riwayat, maka tarjih dengan cara melihat hafalan periwayatnya atau melihat banyaknya sahabat yang meriwayatkan tentang hadits ini, atau dengan cara selain itu. Maka kemudian baru bisa dihukumi bahwa hadits tersebut adalah hadits yang rajih, sehingga tidak lagi menjadi hadits yang mudltharib. Dan idlthirab menyebabkan sebuah hadits menjadi dha`if (lemah) karena hadits menunjukkan ketidak patenan (dhabit) dalam meriwayatkan. (Idlthirab) ini kadang bisa terjadi pada sanad dan kadang bisa terjadi pada matan (redaksi) hadits. Pada kedua keadaan, (idlthirab) bisa jadi bersumber dari satu periwayat atau dari banyak periwayat.

Al Hafidz Ibnu Daqid Al `Id di dalam kitab Al Iqtirah, memaparkan: Hadits mudltharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan pelbagai redaksi yang berbeda-beda dan ini merupakan salah satu yang menyebabkan hadits memiliki illat menurut mereka (kalangan ahli hadits) dan menyebabkan hadits berkedudukan dha`if (lemah)

DIANTARA SYAHID YANG MEMPERKUAT HADITS DENGAN RIWAYAT أَتَشْهَدِينَ (APAKAH ENGKAU BERSAKSI)?”
Syahid adalah hadits lain yang diriwayatkan senada secara makna, namun berbeda secara redaksi. Sedangkan laki-laki yang disebutkan pada beberapa riwayat hadits yang disebutkan pada pembahasan ini semuanya dimaksudkan kepada Mu`awiyah Bin Hakam[22]

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Darimiy[23];
أخبرنا أبو الوليد الطيالسي ثنا حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن الشريد قال : أتيت النبي صلى الله عليه و سلم فقلت إن على أمي رقبة وإن عندي جارية سوداء نويبية أفتجزىء عنها قال ادع بها فقال أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. قال: اعتقها فإنها مؤمنة!

Pada bab “Apabila seseorang mesti membebaskan seorang budak beriman”
Dikhabarkan kepada kami oleh Al Walid Al Thayalisiy bersumber dari Hamad Bin Salamah dari Muhammad Bin `Amru dari Abu Salamah dari Syarid, ia berkata: Aku mendatangi Rasul Saw. dan aku berkata bahwa saya mesti membebaskan seorang budak perempuan dan saya memiliki seorang budak perempuan berkulit hitam dari suku Nuwaibah, apakah cukup dengan membebaskannya sebagai kafarah bagiku? Rasul Saw. berkata: “Panggillah ia!” maka Rasul saw. kemudian bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Rasul memerintahkan: “Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman.”

Berkata Husain Salim Asad: sanadnya hasan karena adanya periwayat hadits yang bernama Muhammad Bin `Amru.

2. Hadist yang diriwayatkan oleh Al Thabraniy[24];

روى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً وَعِنْدِي جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ أَعْجَمِيَّةٌ , فَقَالَ: ائْتِنِي بِهَا, فَقَالَ:أَتَشْهَدِينَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ , قَالَ:أَتَشْهَدِينَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ, قَالَ:فأَعْتِقْهَا!

Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas bahwasanya seorang laki-laki mendatangi Rasul Saw. dan ia berkata: sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman dan saya memiliki seorang budak berkulit hitam dari kalangan non arab. Rasul Saw. berkata: “Bawalah ia kesini!”. Rasul Saw. kemudian menanyainya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah? Ia berkata: “Iya”. Kemudian beliau berkata: “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah? Ia menjawab: “Iya”. Rasul Saw. kemudian memerintahkan: “bebaskanlah ia!”

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsamy di dalam kitabnya Majma` Al Zawaid, berkomentar:
Pada sanad hadits ada seorang periwayat yang bernama Muhammad Bin Abi Layla dan beliau adalah seorang yang jelek hafalannya, tetapi beliau sebelumnya adalah seorang yang tsiqah.

3. Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dengan redaksi: “siapa tuhanmu?” yang juga merupakan hadits sahih secara sanad[25];

روى عن الشريد بن السويد الثقفى، قال: قلت: يا رسول الله إن أمى أوصت أن نعتق عنها رقبة وعندى جارية سوداء، قال: ادع بها! فجاءت فقال: من ربك؟ قالت: الله، قال: من أنا؟ قالت: رسول الله. قال: أعتقها فإنها مؤمنة!

Diriwayatkan dari Syarid Bin Suwaid Al Tsaqafiy, ia berkata: aku berkata: Wahai Rasul saw., sesungguhnya ibuku telah mewasiatkan kepadaku untuk membebaskan seorang budak atas dirinya dan saya memiliki seorang budak berkulit hitam. Rasul Saw. berkata: “Panggilah ia!” Maka datanglah budak itu dan Rasul Saw. bertanya: “Siapa tuhanmu?” Ia menjawab: “Allah”. Rasul Saw. bertanya lagi: “siapa saya?” Ia menjawab: “Utusan Allah.” Rasul Saw. berkata: “Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman.”

Riwayat ini semakna dengan riwayat yang memiliki redaksi ” أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?”

HADITS-HADITS INI TIDAK TERDAPAT DI DALAM KUTUB AL SITTAH
Apabila ada yang mengklaim bahwa hadits-hadits yang dijadikan rujukan dalam pembahasan ini tidak terdapat di dalam kutub al sittah (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmudzi, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa`i, dan Sunan Ibnu Majah) sehingga tidak bisa diterima, dijadikan pedoman dan pijakan kita, apalagi dalam masalah akidah, mari kita perhatikan komentar Al Hafiz Abu Al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary[26]:

Bila ada yang menolak hadits dengan statement bahwa “hadits ini tidak ditemui di dalam dua kitab sahih (bukhari-Muslim), atau tidak diriwayatkan oleh kutub al sittah”. Pernyataan seperti ini, akan disangka oleh orang-orang yang sedikit ilmu, bahwa setiap hadits yang tidak diriwayatkan di dalam dua kitab sahih (Bukhari-Muslim) dan juga tidak diriwayatkan di dalam kutub al sittah lainnya, adalah hadits dha`if atau maudhu`! Pernyataan ini sesungguhnya adalah statement bathil yang tidak berdasarkan kepada pijakan ilmu yang benar, akan tetapi sebagai bagian dari bid`ah yang mereka munculkan pada zaman sekarang ini. Tidak ada di dunia ini seorangpun `alim, fuqaha` mujtahid, dan para muhadits yang hafiz mensyaratkan bahwa standar kesahihan hadits harus diriwayatkan di dalam salah satu kutub sittah! Akan tetapi ulama sepakat bahwa “hadits apabila memenuhi persyaratan sahih, wajib beramal dengan hadits tersebut, baik diriwayatkan di dalam kutub sittah ataupun tidak.

STUDI KRITIS DAN ANALISA TERHADAP HADITS
Apakah pertanyaan “dimana Allah?” yang biasa digunakan untuk menanyakan tempat secara indrawi menunjukkan terhadap ketuhanan Zat yang ditanyakan?

Dengan kata lain: Apakah pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui bahwa si budak wanita seorang yang murni menyembah Allah atau menyekutukan Allah dengan sembahan lainnya? Si budak wanita -yang ditanya oleh Rasul Saw.,- adalah seorang yang telah hidup di arab dengan keyakinan penduduk yang menyektukan Allah dengan sembahan mereka berupa berhala.

Jikalau demikian, bukankah sebagian orang arab juga menyembah berhala sebagai Tuhan mereka yang berada di bumi dan mereka juga mengakui adanya Tuhan di langit?! Menilik kepada sejarah, bukankah sudah ada sebagian umat yang menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, dan ini telah disebutkan oleh Al Quran?! Ternyata Tuhan-tuhan mereka adalah di langit juga!

Maka pertanyaan yang disebutkan “dimana Allah?” tidak bisa diklaim untuk menunjukkan terhadap ketuhanan dan jawaban yang ada di dalam redaksi hadits “di langit” juga tidak tidak menunjukkan terhadap ketauhidan!

Maka atas dasar apa disebutkan riwayat yang syadz dan tertolak ini, bahwa Rasul Saw bersaksi terhadap keimanan budak wanita?!

Contoh-contoh dari hadits sebelumnya dan sesudahnya menguatkan bahwa yang diinginkan sebagai bukti terhadap keislaman seseorang adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Bukan persaksian bahwa Allah -sebagaimana mereka katakan- memiliki tempat, yaitu di langit! Maka pertanyaannya sebenarnya ditujukan untuk menyatakan bahwa Allah tinggi secara maknawi bukan secara indrawi, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam kitab syarah Sahih Muslim. Hal senada juga disebutkan oleh Imam Al Ghazali.[27]

AKIDAH DAN HADITS AHAD
Sesungguhnya akidah kaum muslim tidaklah dibangun, kecuali di atas keyakinan yang bersifat qath`iy (tegas) dan yaqiniy (yakin) serta tidak mungkin dibangun ditas dalil-dalil yang bersifat zhanniy. Para ulama tauhid sepakat bahwa sumber dalil-dalil pada permasalahan akidah harus bersifat qath`iy (tegas) dan yaqiniy (yakin), baik diambil dari dalil naqli maupun dalil aqly.

Zhan sebagaiman diketahui adalah segala sesuatu yang secara umum adalah benar, akan tetapi ada potensi terdapatnya kesalahan. Jikalau hadits Ahad termasuk ke dalam kategori zhanniyyat (dalil-dalil yang bersifat zhanny), maka tidak bisa berdalil dengannya dalam masalah akidah, sebagaimana dijelaskan pada beberapa statement berikut:

1. Berkata Al Hafiz Al Khatib Al Baghdady, di dalam kitab Al Faqih wa Al Mutafaqqih: Dan apabila seorang, yang bisa dipercaya, yang tsiqah meriwayatkan sebuah khabar yang bersambung sanadnya, bisa ditolak periwayatannya dengan beberapa perkara; salah satunya, apabila riwayatnya bertentangan dengan dalil `aqli (hukum akal), maka bisa langsung diketahui bahwa riwayat tersebut adalah bathil!

2. Berkata Imam Nawawi di dalam Syarah Sahih Muslim:
Sebagian ahli hadits berpendapat bahwa hadits Ahad di dalam Shahih Bukhari dan Sahih Muslim bisa menghasilkan ilmu, bedahalnya dengan riwayat selainnya (Bukhari-Muslim) terhadap hadits-hadits ahad. Kami telah menyebutkan masalah ini sebelumnya dan kami juga membatalkan pendapat ini, pada beberapa sub bab. Kemudian (Imam Nawawi) berkomentar -setelah beberapa baris-: dan adapun yang berkata: khabar Ahad menghasilkan ilmu, maka ini adalah mengabaikan fungsi indra manusia, bagaimana mungkin menghasilkan ilmu, sedangkan kemungkinan salah, waham, bohong dan selainnya sangat mungkin disematkan kepadanya. Wallahu a`lam.

KETERANGAN SECARA JELAS PARA IMAM, HUFAZH DAN PAKAR HADITS TERHADAP STATUS HADITS YANG MENCERITAKAN KISAH BUDAK WANITA INI SEBAGAI HADITS MUDLTHARIB

1. Imam Baihaqi
Sebagaimana telah disebutkan di awal kajian, Imam Baihaqi menyatakan: Hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara terpotong dari hadits yang bersumber dari Auza`ie dan Hajjaj al Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir tanpa menyebutkan tentang kisah budak wanita. Saya mengira ia meninggalkan kisah budak wanita tersebut karena terjadinya perbedaan riwayat pada redaksinya dan saya juga menyebutkan hadits ini pada bab zhihar di dalam kitab sunan (al kubra). Riwayat yang ada berbeda dengan riwayat para periwayat yang bertentangan dengan riwayat Muawiyah Bin Hakam dari segi redaksi hadits. Imam Baihaqi juga menyebutkan secara terang dan jelas bahwa hadits ini bukan merupakan bagian dari hadits Sahih Muslim.

Dari sisi lain yang sangat penting diperhatikan, Imam Baihaqi menyebutkan secara terang bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, maksudnya terjadi perbedaan para periwayat hadits dari segi redaksional hadits. Jikalaupun diterima riwayat Imam Muslim, maka hadits ini adalah hadits mudltharib, tanpa diragukan dibimbangkan lagi, sebagaimana telah kita tetapkan pada bagian-bagian sebelumnya ketika mengkaji jalur hadits.

Dari sisi ketiga, hadits tentang kisah budak wanita ini juga tidak disebutkan oleh Imam Muslim pada bab pembebasan budak, juga bukan pada bab sumpah dan nazar. Ini merupakan penguat pernyataan Imam Baihaqi dan selain beliau.

2. Imam Al Hafiz al Bazzar, di dalam kitab Kasyfu Al Astar:
Imam al Bazzar juga menyatakan dengan terang bahwa hadits ini adalah hadits yang mudltharib di dalam kitab musnad beliau. Beliau berkata setelah meriwayatkan hadits dari salah satu jalur dari pada jalur-jalur yang ada: “Dan hadits ini juga diriwayatkan semisal dengannya dengan redaksi yang berbeda-beda”.

3. Al Hafiz Ibnu Hajar :
Ibnu Hajar di Dalam kitab Al Talkhis Al Habir, menyatakan secara jelas dan terang bahwa hadits ini adalah hadits yang mudltharib dan beliau berkomentar: “Dan pada lafaz hadits terjadi perbedaan yang sangat banyak”.

Ibnu Hajar di dalam kitab Fath Al Bari, juga menyebutkan secara jelas bahwa tidak boleh meyakini “dimana” kepada Zat Allah dan tidak diamalkan hadits ini, meskipun sanadnya sahih menurut beliau, akan tetapi ini disebabkan karena idlthirab pada hadits! Karena idlthirab pada hadits menyebabkan sebuah hadits berkedudukan dha`if, meskipun sanadnya sahih. Oleh karen itu Al Hafiz berkomentar: Sesungguhnya pengetahun akal terhadap rahasia-rahasia Ilahi sangatlah terbatas, tidak mungkin dihukumi Allah dengan pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana?” Sebagaimana juga tidak bisa diajukan pertanyaan “dimana” dan “dalam kondisi apa?”

Oleh karena itu pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy adalah konsekuensi dari pertanyaan “dimana?” dan “bagaimana?”, meskipun tidak menyebutkan secara jelas pertanyaan tersebut! Meskipun pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy dikunci dengan pernyataan “jangan fikirkan bagaimana Allah berada di langit atau di atas `arsy”, ini tidak menafikan mereka menisbahkan sifat makhluq kepada Al Khaliq, yaitu keduanya sama-sama berada pada suatu tempat!

Ketika anda menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy atau di atas langit itu artinya anda sudah duluan menentukan kaifiyah terhadap Allah dengan menetapkan langit atau `arsy sebagai tempat Allah berada. Ketika ini disampaikan kepada orang lain maka anda sudah membuat orang berfikir. Ketika anda sudah dahuluan memikirkan zat Allah dan membuat orang berfikir kemudian anda melarang orang memikirkan tentang kaifiah zat Allah! Justru pemikiran anda yang seperti ini sangat sulit dipahami oleh orang lain, karena kontradiktif secara akal!

Maka dengan pernyataan-pernyataan para ulama hadits seperti disebutkan, kita bisa meyakini seyakin-yakinnya dan tidak diragukan lagi terhadap status dan kedudukan hadits tentang budak wanita yang mudltharib, yang dipandang berdasarkan kaidah ilmu hadits (ilmu Mushtalah Hadits) yang juga diperkuat oleh keterangan secara jelas para ahli hadits dari dulu sampai sekarang. Oleh karena itu tidak mungkin lafaz hadits dijadikan `Illat (pijakan). Sebagaimana juga dijelaskan bahwa hadist yang diriwayatkan dengan redaksi “apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” adalah merupakan riwayat yang paling sahih.

Jikalau seandainya dilakukan tarjih, diantara riwayat-riwayat yang ada, maka riwayat yang paling rajih- tidak diragukan lagi- adalah riwayat dengan redaksi “apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?”

Karena riwayat ini merupakan riwayat yang paling sahih dan yang bisa diyakini sesuai dengan apa yang selalu dilakukan oleh Nabi Saw.. Jikalau kita telisik kembali lembaran sejarah Nabi Saw. akan kita temui bahwa beliau selalu menyuruh seseorang yang masuk islam atau menanyakan keimanan seseorang dengan syahadatain (dua syahadat). Kisah-kisah seperti ini telah diriwayatkan kepada kita secara mutawatir bahwa beliau menyuruh manusia, memerangi mereka dan menguji keimanan mereka dengan syahadatain (dua syahadat). Oleh karena itu maka riwayat “dimana Allah?” merupakan riwayat syadz yang diingkari.

HADITS-HADITS NABI SAW. YANG MENYATAKAN BUKTI KEISLAMAN SESEORANG, DENGAN “BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH”, BUKAN MENANYAKAN “DIMANA ALLAH?”

1. Hadits riwayat Bukhari[28]
روى البخارى عن ابن عمر أن النبى صلى الله عليه وسلم قال لابن الصياد: ( أتشهد أني رسول الله )؟

Diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Ibnu `Umar, bahwasanya Nabi Saw., berkata kepada Ibnu Shayyad: Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?

2. Hadits Bukhari – Muslim[29]

عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليع وسلم قال: أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

Dari Ibnu `Umar bahwasanya Rasul Saw. bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Suyuthi berkomentar: hadits ini adalah hadits mutawatir[30]

3. Hadits Sahih Muslim[31]

عن ابن عباس أن معاذا قال بعثني رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله

Dari Ibnu `Abbas bahwasanya Mu`adz berkata: Aku diutus oleh Rasul Saw. , beliau berkata: sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum dari golongan ahlul kitab. Maka serulah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah.

4. Hadits Sahih Muslim[32]
روى أن رسول الله أبا هريرة نعليه، قال: يا أبا هريرة اذهب بنعلي هاتين فمن لقيت من وراء هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله مستيقنا بها قلبه فبشره بالجنة.

Diriwayatkan dari Rasul Saw. Wahai Abu Hurairah pergilah engkau dengan membawa kedua sandalku ini, siapapun yang engkau temui di balik kebun ini yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan meyakini (syahadat itu) di hati mereka, maka kabarkanlah mereka dengan surga!

5. Hadits Sahih Muslim[33]

حديث عتبان بن مالك قال إن جماعة من الصحابة أحبوا أن يدعو النبى صلى الله عليه وسلم على مالك ابن دخشم ليهلك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أليس يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ؟ قالوا إنه يقول ذلك وما هو في قلبه. قال لا يشهد أحد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله فيدخل النار أو تطعمه قال أنس فأعجبني هذا الحديث فقلت لابني اكتبه فكتبه

Hadits `Itban bin Malik, ia berkata: Sesungguhnya sekelompok sahabat Rasul Saw. berharap agar Rasul Saw. mendoakan Malik Bin Dukhsyum celaka. Rasul Saw. menjawab: Bukankah ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Mereka menjawab: sesungguhnya ia mengatakan itu hanyalah di lisan saja dan ia tidak meyakini di hatinya. Rasul Saw. bersabda: Tidak ada seorangpun yang besaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah akan masuk neraka dan dimakan oleh neraka. Anas berkata: Hadits ini mengagumkanku, maka aku berkata kepada anakku: Tulislah hadits ini! Maka ia pun menulisnya.

Inilah sekelumit pemaparan hadits dan selain hadits-hadits ini sangat banyak sekali -bahkan sampai derajat mutawatir- semuanya menguatkan kita untuk merajihkan riwayat hadits dengan redaksi: اتشهدين أن لا إله إلا الله (apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)?. Disamping hadits ini merupakan hadist yang paling sahih sanadnya.

KESIMPULAN
Dari pemaparan tentang hadits budak wanita yang dibebaskan Rasul Saw. ini kita ketahui bahwa:
1. Hadits yang diriwayatkan dengan redaksi: اتشهدين أن لا إله إلا الله (apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)? Adalah hadits yang paling sahih secara sanad dan paling kuat pegangan untuk beramal dengannya, terutama dalam masalah akidah.
2. Hadits Sahih Muslim dengan redaksi pertanyaan Rasul Saw: أين الله؟ (dimana Allah)? dan jawaban budak wanita: فى السماء adalah hadits mudltharib -sebagaimana diakui oleh para imam dan pakar hadits- yang tidak sah dijadikan pijakan di dalam masalah akidah. Pertanyaan Rasul Saw. dan jawaban budak yang selalu dijadikan pegangan dalil, bisa diyakini bukanlah bersumber dari Rasul Saw. dan budak wanita, akan tetapi bersumber dari periwayat hadits.
3. Tidak dijadikannya Hadits Sahih Muslim sebagai landasan berdalil dikuatkan oleh; bahwa hadits ini bertentangan dengan dalil yang qath`iy (tegas) dan yaqini (yakin), baik itu secara naqli maupun secara `aqli serta bertentangan dengan ijma` kaum muslimin dari dulu sampai sekarang bahwa Allah berbeda dengan makhluqNya dan Allah tidak bertempat/butuh kepada tempat layaknya makhluq.

Oleh karena itu maka keyakinan bahwa Allah berada di langit tidak bersandarkan kepada dalil yang sahih dan kuat. Adapun orang awam dan anak-anak yang biasa mengatakan/mengisyaratkan bahwa Allah berada di langit tidaklah bisa dijadikan pijakan dalil, karena hanya itulah kemampuan mereka untuk menunjukkan wujud Allah. Orang awam atau anak-anak kecil ketika mengucapkan/mengisyaratkkan hal tersebut sangat ditoleransi oleh syariat, tidak dianggap bid`ah apalagi kafir, akan tetapi dipahami perkataan mereka dengan makna majaz, bahwa maksud mereka adalah ketinggian Allah Yang Maha Kamal tidak sama dengan semua makhluq! Apakah mungkin orang-orang yang berilmu akan berdalil dengan perbuatan orang awam dan anak-anak?! Beghitu juga halnya bahwa ketika kita berdo`a dengan menengadahkan tangan ke langit, bukan berarti Allah berada di langit, tapi karena langit adalah kiblatnya do`a, sebagaimana Ka`bah adalah kiblatnya shalat!

Kepada sahabat-sahabat yang berpegang teguh dengan hadits tentang budak wanita yang diriwayatkan di dalam sahih Muslim ini saya ajak untuk tidak fanatis dengan doktrinan sepihak. Bukalah fikiran sejernih-jernihnya dan lapangkanlah hati untuk menerima dan menganalisa ilmu yang diperoleh oleh orang lain. Saya yakin bahwa tidak ada yang ma`shum, selain Rasulullah Saw.. Kenapa tidak mencoba mengkritisi apa yang disampaikan oleh guru kita dan mencoba menanyakan akal, apakah masih netral dan objektif?

Kita selalu mendakwa bahwa al haq (kebenaran) lebih didahulukan daripada figuritas seseorang! Jikalau benar demikian, bukankah kebenaran tidak hanya dimonopoli oleh guru-guru yang semanhaj dengan kita?! Jikalau kita mengaku bahwa kita adalah orang yang kuat berpegang dengan al Qur`an dan sunnah -jikalau benar demikian-, adalah tidak layak bila mengambil secara parsial atau tidak mengkaji secara detail kesahihan nash syariat yang kita terima? Generasi salaf itu sangat banyak, maka adalah sangat aib bila kita memilah dan memilih salaf yang kita pedomani dengan mengabaikan salaf yang lain! Sahabat tidak mesti menerima orang lain, tapi tidak bijak bila menolak analisa orang lain, hanya karena alasan berbeda dengan apa yang diyakini!

Jikalau sahabat selalu mendakwa bahwa pemahaman sahabat adalah pemahaman generasi salaf, sekali-kali bertanyalah kepada diri sahabat, apakah benar pemahaman generasi salaf seperti yang saya pahami dan seperti yang saya aplikasikan?! Jikalau generasi salaf merupakan orang yang tunduk kepada kebenaran dan sangat tawadhu`, kenapa kita tunduk kepada guru doktrinan guru saja dan terlalu sulit menerima orang lain yang beda manhaj?! Jikalau generasi salaf sangat mendahulukan husnuzhan kepada saudaranya, kenapa kita justru mendahulukan su`u zhan kepada saudara kita yang sama-sama muslim?!

Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa kita sama-sama bermaksud untuk menetapkan segala sifat kesempurnaan bagi Allah dan menafikan segala sifat yang menunjukkan kekurangan, aib dan kelemahan.
Wallahu a`lam

Ya Allah berikanlah kepada kami cahaya kebenaran dan mudahkanlah kami untuk istiqomah dengan kebenaran serta hilangkan sikap fanatisme buta dari diri kami sampai akhir hayat kami. Amiin

Referensi dan rujukan kajian :
1. Al Qur`an Al Karim
2. Kitab-kitab hadits dan sunan
3. DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009
4. Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran.
5. Abu Hamid Al Ghazaly, Iljam Al `Awwam `An Ilmi Al Kalam, Al Maktabah Al Azhariyyah li al Turats, Kairo.
6. Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
7. Taqiyyuddin Al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
8. Taqiyyuddin Abi Bakar Al Hishniy Al Dimasqiy, Daf`u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary, 2010.
9. `Abdurrahman Abi Al Hasan Al Jauziy, Daf`u Syubhat al Tasybih, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary, 2010.
10. Muhammad Zahid Al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
11. Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin Al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
12. Al Hafiz Abu al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary, Nihayat Al Amal Fie Shihati Wa Syarh Hadits `Ardl Al A`mal, Maktabah al Qahirah, Kairo, 2006.
13. DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010.
14. DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010
15. DR. Manshur Muhammad Muhammad `Uwais, Ibnu Taimiyyah Laisa Salafiyyan, Dar Al Nahdah Al `Arabiyyah, Kairo, cet. ke I, 2010.
16. DR. Muhammad Abdil Fadhil Al Qushy, Hawamisy ` Ala Al `Aqidah Al Nizhamiyyah Li Al Imam Al Haramain, Maktabah Iman, Kairo, cet. ke II, 2006.
17. DR. Ahmad `Umar Hasyim, Qawaid Ushul Al Hadits, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo

Endnote:
[1] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. Editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[2] Taqiyuddin Al Subky Al Kabir, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary

[3] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[4] Imam Nawawi, Syarah Sahih Muslim, Dar Al Hadits, Kairo, cet. ke IV, 2001, Vol. III, Hal.:30 , Editing, takhrij dan indeks: `Isham Al Shababithy, dkk.

[5] Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 391. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[6] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:338

[7] Muhammad Zahid Al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, hal.:392. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[8] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:338 dan setelahnya.

[9] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. Tahqiq: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[10] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:339.

[11] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:339

[12] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:340.

[13] Imam Baihaqi, Sunan Kubra, hadits no. : 15045

[14] Lihat juga: Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, Hal.: 245, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran.

[15] Lihat: DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali ` Ardl Wa Al Tahlil, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010, hal.: 103. Dan lihat juga: DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010, Hal.: 79

[16] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:340.

[17] `Abdul Razzaq, Mushannaf, hadits no.: 16815

[18] Imam Malik, Al Muwatha`, hadits no.: 1469

[19]`Abdul Razzaq, Mushannaf, hadits no.: 16815

[20] Imam Ahmad, Al Musnad, hadits no.: 15781

[21] Syahid adalah hadits lain yang diriwayatkan senada secara makna, namun berbeda secara redaksi

[22] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[23] Imam al Darimiy, Sunan Al Darimiy, hadits no.: 2348

[24] Imam Thabraniy, Al Kabir, hadits, no.: 12369

[25] Imam Ahmad, Musnad Ahmad, hadits no.: 17974, Imam Al Nasa`i pada kitabnya Al Kubra: hadits no.: 6480, Imam Al Darimiy pada kitab Sunan, hadits no.: 2348 dengan redaksi ” أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?”, Imam Ibnu Hibban: hadits no.: 189, Imam Baihaqi pada sunan Kubra, hadits no.: 15049

[26] Al Hafiz Abu al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary, Nihayat Al Amal Fie Shihati Wa Syarh Hadits `Ardl Al A`mal, Maktabah al Qahirah, Kairo, 2006, hal.: 28

[27] Lihat: Imam Nawawi, Syarah Sahih Muslim, Dar Al Hadits, Kairo, cet. ke IV, 2001, Vol. III, Hal.: , Editing, takhrij dan indeks: `Isham Al Shababithy, dkk.. Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, Hal.: 252, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran. DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali ` Ardl Wa Al Tahlil , Fak Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010, hal.: 106

[28] Imam Bukhari, hadits no.: 2890 dan Imam Muslim, hadits no.: 2930

[29] Imam Bukhari, hadits no.: 25 dan Imam Muslim, hadits no.: 22

[30] Imam Suyuthi, Al Jami` Al Shagir, hadits no.: 1630

[31] Imam Muslim, hadits no.:19

[32] Imam Muslim, hadits no.: 31

[33] Imam Muslim, hadits no.: 33

Paham anti mazhab bid'ah paling gawat

Gerakan menyebar-luaskan istilah mazhab Salaf boleh jadi merupakan gerakan anti bermazhab

Marilah kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika kita tidak mampu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung maka kita membutuhkan pemahaman mereka yang mengetahuinya. Ketidakmampuan bisa disebabkan oleh karena kompetensi/keahlian, waktu, dana dan sebab-sebab yang lain.

Firman Allah yang artinya,

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3).

Selama ini banyak ulama yang secara tidak disadari telah menyesatkan umat muslim dengan slogannya atau seruannya untuk merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa mempedulikan atau memperhatikan keadaan yang diserunya atau syarat-syarat untuk berijtihad.

Seruan seperti ini justru pemecah belah umat muslim karena masing-masing berijtihad sehingga terjadi kesalahpahaman-kesalahpahaman. Contoh ada yang berijtihad dan berpendapat bahwa muslim yang sholat menggunakan sajadah adalah bid’ah atau sesat sehingga mereka menggali lantai tanah rumah mereka untuk dapat sholat di atas tanah. Boleh jadi karena mereka menemukan hadits ketika itu memang diriwayatkan bahwa Rasulullah sholat di atas tanah. Padahal hadits-hadits yang turun selanjutnya ada yang menguraikan perkembangan alas untuk sholat seperti masjid dihampari batuan kecil dan seterusnya sampai saat ini kita menggunakan sajadah sebagai alas untuk sholat. Sungguh perkara baru dalam amal kebaikan (amal sholeh) tetaplah sebuah kebaikan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits

Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah , khususnya perkara syariat atau perkara ibadah yang harus kita laksanakan sudah tuntas dijelaskan oleh para ulama sejak masa salaf dan seterusnya di dalam kitab-kitab mereka.

Para ulama itu seolah sudah menghidangkannya untuk umat dalam bentuk “makanan siap saji” yang dapat langsung diikuti atau diamalkan. Bahkan perbedaan pendapat dalam urusan furu’ (cabang) sekalipun sudah selesai dibahas dengan hasil sangat memuaskan diiringi rasa solidaritas serta saling menghormati antara yang satu dengan yang lain.

Singkatnya, apa yang disampaikan para imam 4 mazhab dalam pembahasan perkara syariat yakni apa yang telah Allah ta’ala tetapkan berupa kewajiban, larangan dan pengharaman, merupakan hasil ijtihad yang sangat maksimal dalam mengkaji seluruh dalil-dalil agama.

Itu adalah hadiah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam, terlebih lagi umat belakangan yang bila disuruh mengkaji sendiri dalil-dalil tersebut maka tidak mungkin dapat mencapai hasil yang sama. Mengapa tidak mungkin, apakah pintu ijtihad telah tertutup? Pintu ijtihad memang belum tertutup, tetapi kemampuan dan kriteria berijtihad itulah yang sulit dipenuhi oleh orang belakangan. Syarat orang berijtihad atau mujtahid, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/31/imam-mujtahid/

Jadi bermazhab bukanlah kewajiban namun merupakan kebutuhan bagi kita umat belakangan.

Kesalahpahaman bagi mereka yang anti bermazhab dengan Imam Mazhab dan mengajak bermazhab salaf, karena sudah kami sampaikan bahwa apa yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah tentang adanya mazhab salaf adalah perkara yang mengada-ada yang tidak pernah disampaikan oleh Salafush Sholeh maupun oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/04/adakah-manhaj-salaf/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/06/ikutilah-orang-sholeh/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/07/mengapa-harus-salafi/

Mazhab salaf yang digagas oleh Ibnu Taimiyah sebagaimana yang difatwakannya

“Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]

Pengangkatan kembali istilah mazhab salaf ditengarai adalah merupakan upaya dari para pengkaji tentang Islam namun mereka non muslim atau yang berpura menjadi muslim.

Contoh pengkaji tentang Islam, kita kenal dengan sebutan Laurens Of Arabian. Dia telah diarahkan supaya menyelidiki ke dalam masyarakat Islam dengan menyamar sebagai ulama dan mendalami ilmu Islam di Mekah dan Mesir (Al Azhar) dan ia telah bertemu dengan ratusan ulama besar yang masyur, memperbincangkan tentang cara untuk membiasakan umat Islam di segi kemajuan dunia seperti kebiasaan barat serta ia menyebarkan faham supaya umat Islam tidak terikat dan tidak fanatik kepada aliran mazhab. Uraian dapat ditemukan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/03/tharikat/

Pengangkatan kembali istilah mazhab salaf , boleh jadi merupakan upaya adu domba atau pemecah belah kaum muslim yang dilakukan oleh diluar kalangan muslim sehingga terciptalah secara tidak langsung “musuh” dari kalangan kaum muslim sendiri.

Kalau dikatakan dalam fatwa Ibnu Taimiyah di atas bahwa mazhab Salaf itu pasti benar tentu akan menimbulkan keraguan atau kebingungan kaum muslim yang bermazhab akan kebenaran mazhab yang diikutinya.

Hal ini ditengarai termasuk salah satu upaya Zionis Yahudi untuk menyesatkan kaum muslim sebagaimana yang tercantum dalam rencana kerja mereka sebagai berikut

Protokol Zionis yang ketujuhbelas …Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan diaman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..

Mereka mendiskreditkan para rohaniawan non Yahudi diantaranya adalah Imam Mazhab untuk menghancurkan hasil jerih payah para Imam Mazhab agar tidak diikuti lagi dan masing-masing merujuk secara langsung atau berijtihad masing-masing menurut selera mereka masing-masing.

Disebarluaskan bahwa Imam Mazhab tersebut tidak maksum. Padahal kenyataannya Imam Mazhab itu mahfuzh (dipelihara) dengan pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang-orang soleh. Mereka yang dengan sholatnya telah terjaga dari perbuatan keji dan mungkar atau mereka yang dengan sholatnya telah terjaga dari kesalahan.

Bukanlah larangan kaum muslim untuk mengikuti kepada Imam Mazhab seperti perkaan Imam Asy Syafi’i: “Jika kalian mendapati sesuatu pada karya tulisku yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dan tinggalkan perkataanku.”

Maupun

“Jika apa yang aku katakan menyelisihi hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang lebih utama, dan jangan kalian taqlid kepadaku.” (Lihat Manaqib asy Syafi’i, 1/472 dan 473)

Imam Asy Syafi’i dengan dua perkataan diatas hanya mengingatkan agar kita meninggalkan perkataan/pendapat beliau hanya jika menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Jadi kita dilarang taqlid hanya kepada perkataan Imam Asy Syafi’i yang menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam saja dan untuk itulah kita bermazhab seraya merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber para Imam Mazhab melakukan istinbath. Pada kenyataannya kita sangat jarang mendapatkan perkataan/pendapat Imam Mazhab yang menyelisihi Al-Qur’an maupun Hadits.

Ulama besar Syria, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy telah melakukan dialog dengan Al Albani. Dr. Said Ramadhan Al-Buthy berupaya membela dan mempertahankan kedudukan ilmu Fiqih serta urgensinya dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

Menurut Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, kedudukan ilmu fiqih kira-kira sama dengan kedudukan ilmu hadits. Keduanya tidak pernah diajarkan secara baku oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Ilmu hadits atau juga dikenal dengan ilmu naqd (kritik) hadits, juga merupakan produk manusia, hasil ijtihad, bukan ilmu yang turun dari langit.

Tapi dengan ilmu hadits, kita jadi tahu mana hadits yang shahih, mana hadits yang dhaif dan mana hadits yang maudhu’. Padahal yang menyusun ilmu hadits itu bukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, juga bukan para shahabat, tetapi para ulama dengan ijtihad mereka.

Ketika menetapkan syarat-syarat hadits shahih agar bisa dimasukkan ke dalam kitab As-Shahih, sesungguhnya Al-Bukhari juga sedang berijtihad. Dan kita umat muslim sedunia mengikuti ijtihad beliau dan menggunakan syarat-syarat yang beliau tetapkan.

Maka ketika Al-Imam Asy-Syafi’i yang lahir jauh sebelum zaman Bukhari meletakkan syarat dan aturan dalam mengistimbath hukum dari Quran dan Sunnah, lalu mendirikan ilmu Ushul fiqih, sebenarnya beliau telah berjasa besar kepada umat Islam. Sama dengan Al-Bukhari yang juga berjasa agar umat Islam tidak salah dalam memilih hadits.

Demikian juga ketika Abu Hanifah menetapkan dasar-dasar istimbath hukumnya, agar setiap orang tidak asal main qiyas begitu saja, sebenarnya ilmu yang beliau tetapkan itu sangat bermanfaat buat umat Islam. Sama dengan Al-Bukhari yang juga berijtihad agar umat Islam tidak jatuh ke dalam hadits palsu atau lemah.

Sayangnya, ilmu fiqih dan ushul fiqih yang sudah sejak 14 abad dijadikan standar dalam mengistimbath hukum oleh seluruh umat Islam, oleh kalangan mereka ada yang menginginkan dirobohkan begitu saja, dengan alasan kedua ilmu itu dianggap bid’ah dan hanya merupakan ijtihad manusia.

Amat disayangkan dialog semalam suntuk, Al Albani tetap ‘keukeuh‘ dengan pendiriannya. Untuk itulah Dr. Said Ramadhan Al-Buthy kemudian menyusun tulisan untuk membantah pemikiran/pemahaman Al Albani. Judul buku itu dalam bahasa arab adalah : Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.

Hal yang harus kita ingat adalah

- Penamaan mazhab hanyalah untuk perorangan yang telah melakukan ijtihad atau istinbath (penggalian hukum) dari Al-Qur'an dan hadits.

- Tidak semua Salafush Sholeh melakukan ijtihad atau istinbath, pada umumnya adalah sekedar periwayatan atau penyampaian hadits semata.

- Imam Mazhab yang empat adalah dari kalangan Salafush sholeh atau Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in

- Bermazhab bukanlah yang dimaksud berfirqoh. Firqoh atau aliran adalah terkait perbedaan i'tiqod. Seperti meyakini bahwa Tuhan bertempat di atas 'Arsy dan turun langit dunia setiap malam. Keyakinan seperti itui termasuk kekufuran i'tiqod. Selengkapnya tentang firqoh dapat dilihat pada http://arbabulhija.blogspot.com/2010/10/letak-penyimpangan-aqidah-72-aliran.html

- Perbedaan mazhab diantara Imam Mazhab yang empat pada hakikatnya hanya perbedaan sudut pandang. Sebagian Imam Mazhab menetapakan seminimal mungkin sebagai syarat atau kewajiban sebagai muslim dengan melihat contoh Rasulullah yang selalu dilakukannya sedangkan Imam Mazhab yang lain mengambil sebanyak mungkin contoh dari Rasulullah dan mengabaikan yang meniadakan. Prinsipnya adalah yang menetapkan (al-mutsbit) itu harus didahulukan daripada yang meniadakan

Wassalam

Zon di Jongol, Kab Bogor 16830

SEPUTAR IBADAH DAN PUASSA DI BULAN RAJAB

KEUTAMAAN BULAN RAJAB

By; Lajnah Bahtsul Masail


Al Hafidh Ibn Rajab al Hanbali (wafat pada bulan Rajab tahun 795 H). Nama lengkap beliau:

الإمام الحافظ العلامة زين الدين عبد الرحمن بن أحمد بن عبد الرحمن

Al Imam al Hafidh al 'Allamah Zainuddin 'Abdurrahman ibn Ahmad ibn Abdurrahman.

Beliau adalah murid al Hafidh Ibn Qayyim al Jauziyyah.

(lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/ابن_رجب_الحنبلي)

Beliau dalam kitabnya:

لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف

Latha'if Al-Ma'arif fiima li Mawasim Al-'Aami minal Wadha'if juz 1 halaman 105 (www.islamhouse.com), berkata:

شهر رجب مفتاح أشهر الخير والبركة

SYAHRU RAJAB MIFTAAH ASYHURIL KHAIR WAL BARAKAH

Bulan Rajab adalah kunci bulan-bulan kebaikan dan barakah

Selanjutnya beliau berkata:

انتهاز الفرصة بالعمل في هذا الشهر غنيمة

INTIHAAZUL FURSHAH BIL 'AMAL FII HAADZASYSYAHRI GHANIMAH

Cepat-cepat mengambil kesempatan dengan amal pada bulan ini (Rajab) adalah keuntungan

واغتنام أوقاته بالطاعات له فضيلة عظيمة

WAGHTINAAMU AUQAATIHII BITHTHAA'ATI LAHUU FADLIILAH 'ADHIIMAH

Mengambil manfaat waktu-waktu bulan Rajab dengan tha'at akan mendapatkan keutamaan yang agung

Wallaahu A'lam

Semoga bermanfaat


POLEMIK PUASA BULAN RAJAB

By: Santri Mekkah

Memasuki bulan Rajab begini, selalu saja ada rasa bahagia dan ketenangan luar biasa yang tak bisa digambarkan, dan itu terbersit dalam diri tiap muslim baik sadar ataupun tidak. Begitu mendengar kata "Bulan Rajab", perasaan itu segera menyeruak dalam segenap jiwa.

Bisa jadi, karena dengan masuknya bulan ini, sebagai tanda awal untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan agung yang kehadirannya selalu ditunggu seluruh muslim, yaitu bulan Ramadhan.

Coba sekilas saja kita perhatikan, meski belum tahu dalil atau belum tahu anjuran, namun ruhani kita dengan sendirinya mempersiapkan diri untuk memperbanyak beramal shaleh di bulan Rajab ini, dalam bentuk apapun. Seperti sebuah naluri yang berbicara dengan sendirinya tanpa harus ada perintah.

Dan keberadaan dalil-dalil Qur'an dan Sunnah, makin memperkuat perasaan itu dan seketika mendorongnya untuk mempraktekkan amal baik itu di bulan mulia ini.

Belum lagi bahwa bulan ini, sangat identik sekali dengan bulan Isro' Mi'roj Nabi, yang artinya, akan banyak pengajian-pengajian di manapun di sudut-sudut negeri ini.

Hanya saja sayangnya, jika diperhatikan, beberapa tahun terakhir ini ada polemik yang tiba-tiba selalu meledak di bulan ini yang pada saat yang sama pula, agak mengurangi kenyamanan beribadah dan beramal di bulan ini. Polemik yang seharusnya (meski benar dari sudut tertentu) tidak perlu dibesar-besarkan apalagi berujung pada penyesatan orang banyak.

Polemik yang berhubung langsung dengan "puasa di bulan Rajab", yang sangat banyak dilakukan oleh umat Islam di manapun sejak dahulu kala yang berkeyakinan akan pensyariatannya. Polemik, apakah puasa dalam bulan ini memang benar disunnahkan? Atau hanya bid'ah sebagian orang sebab terperangah oleh hadits-hadits lemah yang berbicara tentang ekselensi bulan Rajab?

Pertanyaan ini, banyak berputar di kalangan terpelajar kaum muslimin, sebagai sebuah bentuk kesemangatan dari mereka untuk mengetahui ajaran agamanya.

Namun sayangnya, polemik ini justru menyeret sebagian orang pada debat kusir tidak perlu yang membingungkan banyak umat. Hal yang justru menimbulkan fitnah sebab malah terjadi saling menyesatkan dan menyalahkan.

Lantas bagaimana intinya? Boleh tidak berpuasa di bulan Rajab ini?

Sebelumnya, harus kita jadikan catatan, memang kita mengagungkan bulan Rajab ini sebagai salah satu dari 4 bulan haram dalam Islam (tiga yang lain adalah Muharram, Dzul Qo'dah, dan Dzul Hijjah). Dan kita mengagungkannya sesuai dengan apa yang digariskan syariah, tidak lebih. Karena memang bulan ini memiliki ekselensi khusus itu.

Tentu saja sebuah kesalahan bagi mereka yang menyatakan bahwa bulan ini sama dengan bulan yang lain, dan hal itu sama saja dengan mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat.

Memang kita akui juga, ada beberapa kesalahan tentang bulan ini, dan itu dari dua segi :

Pertama, dari beberapa hadits yang secara spesifik berbicara tentang ekselensi Rajab, yang ternyata hadits-hadits tersebut sebagiannya ada yang sangat lemah (sehingga tidak bisa dipakai hujjah), ada yang munkar, bahkan ada yang palsu.

Kedua, dari segi orang-orang awam yang mengagungkannya dengan amal-amal shaleh tertentu (semisal puasa, shalat Raghaib) dan menganggapnya sebagai salah satu ekselensi Rajab dengan berargumen bahwa itu dilakukan oleh orang shaleh terdahulu lalu berkeyakinan bahwa hal itu dari Nabi, padahal tidak. Dan ini salah satu masalah utama. Sehingga terjadi amalan-amalan baru yang tidak seharusnya ada.

PUASA RAJAB, TERSYARIATKAN

Secara umum, setelah melalui penelitian atas dalil-dalil yang ada, baik itu dalil umum ataupun dalil khusus, banyak ulama' berpendapat (semisal Imam Annawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, Jalaluddin Assuyuti, dan Imam Assyaukani) bahwa sebenarnya puasa di bulan Rajab itu tersyariatkan (Masyru'). Dan tentu saja ada yang mengingkarinya (semisal Imam Ibnu Qoyyim) dengan menyatakan hal itu tidak tersyariatkan, masing-masing memiliki argumen atas pendapatnya.

Jika menilik Dalil umum, ada hadits shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah yang menganjurkan untuk berpuasa di bulan-bulan Haram, periwayatan seseorang dari suku Bahilah yang bertanya pada Nabi soal ini, dan dijawab beliau : "wa Shum Asyhural Hurum", dan puasalah di bulan-bulan haram. Nah, Rajab, dengan tanpa keraguan sedikitpun, masuk dalam bulan Haram secara Ijma'.

Dalil umum kedua terdapat dalam Sunan Abi Daud pada Bab Shoum Syahr Rajab, dengan indikasi sama, bahwa terkadang Rasul puasa dan sama sekali tak berbuka, dan terkadang berbuka sampai sama sekali tidak puasa, hal ini diterangkan Sa'id bin Jubair saat ditanya perihal puasa bulan Rajab.

Dalil umum ketiga, adalah kesunnahan puasa 3 hari di tiap bulan, dan Rajab tentu saja otomatis masuk. Atau puasa senin kamis tiap pekan.

Begitu pula hadits riwayat Usamah bin Zaid saat melihat Nabi lebih banyak puasa di bulan Sya'ban, dan kala bertanya, beliau menjawab, bahwa sya'ban adalah bulan yang banyak dilupakan orang antara Rajab dan Ramadhan. Nah, hadits ini terdapat isyarat akan tidak masalahnya puasa di bulan Rajab, sebagaimana diterangkan oleh Mulla Ali Qori, dan Imam Assyaukani.

Nah, adapun dalil-dalil khusus untuk puasa dalam bulan Rajab ini, keutamaannya, dan lain sebagainya, tak terdapat satupun hadits yang shahih atau hasan yang patut dibuat patokan. Bahkan rata-rata lemah dalam transmisi rangkaian sanadnya, namun bisa saling mengkuatkan antar satu dengan yang lain, sehingga layak menjadi hujjah. Apalagi hal ini masuk dalam fadha-il a'mal (keutamaan menambah amal-amal) yang memang tidak membutuhkan kesahihan suatu hadits atau kehasanannya, sebagaimana diketahui oleh siapapun yang mendalami ilmu hadits, dengan catatan hadits tersebut tidak sangat lemah sekali semisal hadits-hadits munkar, yang memang tidak boleh diamalkan.

Semisal hadits bahwa puasa sehari dalam bulan Rajab, sama dengan puasa satu bulan. Atau bahwa puasa sehari saja, laksana puasa setahun, dan yang puasa 7 hari, maka pintu neraka ditutup darinya, dan lain sebagainya.

Nah, melihat keseluruhan dalil ini, tentu saja tidak dibenarkan mengingkari sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat, meski secara umum. Dengan asumsi, bahwa meski dalil khususnya tidak bisa digunakan, akan tetapi hal itu tidak lantas pula menggugurkan dalil umum, sebagaimana diketahui dalam kaidah yang berlaku.

Sayangnya, yang terjadi di media saat ini adalah membesar-besarkan permasalahan hadits dho'if tadi, tanpa menyebutkan dalil-dalil umum dan pendapat ulama' yang mendukung puasa Rajab. Sesuatu yang sangat timpang yang ujungnya justru menimbulkan masalah sebab seolah-oleh orang yang melakukan puasa Rajab itu salah, dan sesat. Sangat disayangkan.

Malah yang terjadi adalah fitnah, memecah belah. Sesuatu yang sangat diharamkan bahkan dilaknat dengan sangat keras oleh syariat.

Yang menarik, sebagian dari penentang puasa ini, menggunakan dalil yang terdapat dalam Sunan Ibnu Majah, bahwa Nabi melarang puasa di bulan Rajab, dan ternyata hadits larangan ini juga dho'if !

Adapun ingkarnya sebagian sahabat besar akan puasa bulan Rajab, seperti sayyidina Umar bin Khattab, adalah ingkar terhadap tindakan sebagian orang yang berlebihan mengagungkan bulan ini, sehingga seperti Ramadhan, padahal tidak.

Nah, periwayatan ini pun ternyata juga transmisi sanadnya tidak shahih. Ada masalah di sebagian perawinya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa argumen-argumen penentang puasa Rajab ini pun ternyata tidak cukup dan kurang bergreget untuk mencounter hadits-hadits yang memperkuat disyariatkannya puasa secara umum di bulan Rajab.

Kesimpulan umum, sekaligus akhir catatan, bahwa tidak masalah berpuasa di bulan Rajab, serta tidak ada hari khusus harus tanggal berapa saja. Anjuran juga, bulan ini sangat bagus untuk memperbanyak istighfar, dan amalan apapun di bulan haram pahala selalu dilipat gandakan.

So, yang mau puasa silahkan, yang tidak juga tidak masalah, niat puasanya niat puasa sunnah secara umum saja.

Dan yang bagi kontra puasa sunnah di bulan Rajab, tidak usah lah membesar-besarkan masalah. Yang justru diharamkan adalah bertengkar di bulan haram, termasuk bulan Rajab ini. Bulan-bulan yang bahkan orang kafir jahiliyyah pun menghentikan pertempuran.

Lalu, lantas kenapa kita sebagai sesama muslim malah menjadikannya sebagai bulan untuk ajang bertikai? Sangat kontradiktif dan bertentangan langsung dengan syariat kita. Camkan baik-baik. Wallahu A'lam (*)

Awy', Makkah 2 Rajab 1432 H.



Selasa, 01 Februari 2011

http://www.0alsoufia.jeeran.com/

ترجمة الإمام أبو الحسن الأشعري

ترجمة الإمام أبو الحسن الأشعري
هو أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر إسحاق بن سالم بن إسماعيل بن عبد الله بن موسى بن بلال بن أبي بُردَةَ عامر ابن صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم أبي موسى الأشعري.
ولد رحمه الله سنة ستين ومائتين بالبصرة، وقيل: بل ولد سنة سبعين ومائتين، وفي تاريخ وفاته اختلاف منها أنه توفي سنة ثلاث وثلاثين وثلاثمائة، وقيل: سنة أربع وعشرين، وقيل: سنة ثلاثين، توفي رحمه الله ببغداد ودفن بين الكرخ وباب البصرة.
كان أبو الحسن الأشعري سنّيـا من بيت سنّة ثم درس الاعتزال على أبي علي الجبَّائي وتبعه في الاعتزال، ثم تاب ورَقِيَ كرسيّا في المسجد الجامع بالبصرة يوم الجمعة ونادى بأعلى صوته: من عرفني فقد عرفني ومن لم يعرفني فإني أعرفه بنفسي، أنا فلان بن فلان كنت أقول بخلق القرءان وان الله لا تراه الأبصار وان أفعال الشر أنا أفعلها وأنا تائب مقلع، معتقد للرد على المعتزلة مخرج لفضائحهم ومعايبهم.
قال الفقيه أبو بكر الصَّيرَفي: "كانت المعتزلة قد رفعوا رءوسهم حتى نشأ الأشعري فحجزهم في أقماع السَّماسم.
وقد استفاد من الأشعري خلق كثير من أكابر العلماء وفحول الأئمة فتأدبوا بآدابه وسلكوا مسلكه في الأصول واتبعوا طريقته في الذب عن الدين ونصرة أهل السنة، إذ كان فضل المقتَدي يدل على فضل المقتدَى به، وهم من أعيان الأئمة ومشاهير القوم وقد ذكرهم مؤرخ الشام وحافظها أبو القاسم علي بن الحسن بن هبة الله بن عساكر في كتابه الذي ألفه في الدفاع عن الشيخ أبي الحسن الأشعري مع ذكر مناقبه ومؤلفاته وثناء الأئمة عليه. وقد أفرد قاضي القضاة الشيخ تاج الدين ابن الامام قاضي القضاة تقي الدين السبكي فصلا خاصا بذكر أكابر المنتسبين إلى الشيخ أبي الحسن الأشعري وذلك أثناء ترجمته في كتابه طبقات الشافعية. وقد افتتح ترجمته بقوله: "شيخنا وقدوتنا إلى الله تعالى الشيخ أبو الحسن الأشعري البصري شيخ طريقة أهل السنة والجـماعة وإمام المتكلمين وناصر سنة سيد المرسلين والذاب عن الدين والساعي في حفظ عقائد المسلمين سعيًا يبقى أثره إلى يوم يقوم الناس لرب العالمين، إمام حبر وتقي بر حمى جناب الشرع من الحديث المفترى وقام في نصرة ملّة الإسلام فنصرها نصرًا مؤزرًا وما برح يدلج ويسير وينهض بساعد التشمير حتى نقَّى الصدور من الشُّبه كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس ووقى بأنوار اليقين من الوقوع في ورطات ما التبس فلم يترك مقالاً لقائل وأزاح الأباطيل، والحق يدفع ترهات الباطل " ا. هـ.
قـال الأستاذ أبو إسحاق الإسفراييني: "كنت في جنب الشيخ أبي الحسن الباهلي كقطرة في جنب بحر، وسمعت الباهلي يقول: كنت في جنب الأشعري كقطرة في جنب البحر"، وقال لسان الأمة القاضي أبو بكر الباقلاني: "أفضل أحوالي أن أفهم كلام أبي الحسن ".
وقال كذلك أي التّاج السبكي في طبقاته (1) أثناء ترجمة الأشعري ما نصه: ذكر بيان أن طريقة الشيخ- يعني الأشعري- هي التي عليها المعتبرون من علماء الاسلام والمتميزون من المذاهب الأربعة في معرفة الحلال والحرام والقائمون بنصرة دين سيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام:
قدمنا في تضاعيف الكلام ما يدل على ذلك، وحكينا لك مقالة الشيخ ابن عبد السلام ومن سبقه إلى مثلها، وتلاه على قولها حيث ذكروا أن المالكية والشافغية والحنفية وفضلاء الحنابلة أشعريون هذه عبارة ابن عبد السلام شيخ الشافعية، وابن الحاجب شيخ المالكية، والحصيري شيخ الحنفية، ومن كلام ابن عساكر حافظ هذه الأمة الثقة الثبت: هل من الفقهاء الحنفية والمالكية والشافعية إلا موافق للأشعري ومنتسب له وراض بحميد سعيه في دين الله، مثنٍ بكثرة العلم عليه غير شرذمة قليلة تضمر التشبيه، وتعادي كل موحد يعتقد التنزيه، أو تضاهي قول المعتزلة في ذمه، وتباهي بإظهار جهلها بقدر سعة علمه".ا هـ.
وقال الأستاذ أبو القاسم القشيري رحمه الله: "اتفق أصحاب الحديث أن أبا الحسن علي بن إسماعيل الأشعري كان إماما من أئمة أصحاب الحديث، ومذهبه مذهب أصحاب الحديث، تكلم في أصول الدين على طريقة أهل السنة ورد على المخالفين من أهل الزيغ والبـدع وكان على المعتزلة والمبتدعين من أهل القبلة والخارجين عن الملة سيفا مسلولأ، ومن طعن فيه أو قدح أو لعنه أو سبه فقد بسط لسان السوء في جميع أهل السنة"اهـ.
وترجـمه الحافظ أبو بكر البغدادي في تاريخ بغداد (2) بقوله: "أبو الحسن الأشعري المتكلم صاحب الكتب والتصانيف في الرد على الملحدة وغيرهم من المعتزلة والجهمية والخوارج وسائر أصناف المبتدعة " اهـ.
ووصفه المؤرخ ابن العماد الحنبلي (3) بالإمام العلامة البحر الفهامة المتكلم صاحب المصنفات، ثم قـال: "وممّا بيض به وجوه أهل السنة النبوية وسود به رايات أهل الاعتزال والجهمية فأبان به وجه الحق الأبلج، ولصدور أهل ا لإيمان والعرفان أثلج، مناظرته مع شيخه الجبائي التي قصم فيها ظهر كل مبتدع مرائي " اهـ.
وذكر شمس الدين بن خلكان في الأعيان (4) ووصفه بقوله " صاحب الأصول، والقائم بنصرة مذهب أهل السنة، وإليه تنسب الطائفة الأشعرية، وشهرته تغني عن الإطالة في تعريفه " اهـ.
وقال أبو بكر بن قاضي شهبة في طبقاته (5): "الشيخ أبو الحسن الأشعري البصري إمام المتكلمين وناصر سنة سيد المرسلين، والذاب عن الدين" ا.هـ.
وقال اليافعي في مرءاة الجنان (6) ما نصه: " الشيخ الإمام ناصر السنة وناصح الأمة، إمام الأئمة الحق ومدحض حجيج المبدعين المارقين، حامل راية منهج الحق ذي النور الساطع والبرهان القاطع " ا.هـ.
ويقول القرشي الحنفي في طبقاته (7): "صاحب الأصول الإمام الكبير وإليه تنسب الطائفة الأشعرية" وقد أثنى عليه الأسنوي الشافعي فقال (8): "هو القائم بنصرة أهل السنة القامع للمعتزلة وغيرهم من المبتدعة بلسانه وقلمه، صاحب التصانيف الكثيرة، وشهرته تغني عن ا لإطالة بذكره "" ا. هـ.
وأجاب قاضي القضاة أبو عبد الله الدامغاني الحنفي على سؤال ورده ببغداد ونصه: "ما قول السادة الأئمة الأجلة في قوم اجتمعوا على لعن فرقة الأشعري وتكفيرهم، ما الذي يجب عليهم؟، فأجاب بقوله: "قد ابتدع وارتكب ما لا يجوز، وعلى الناظر في ا لأمور أعز الله أنصاره ا لإنكار عليه وتأديبه بما يرتدع به هو وأمثاله عن ارتكاب مثله ".
وبعده كتب الشيخ أبو إسحاق الشيرازي رحمه الله تعليقا على الجواب المذكور: (الأشعرية أعيان أهل السنة وأنصار الشريعة انتصبوا للرد على المبتدعة من القدرية وغيرهم فمن طعن فيهم فقد طعن على أهل السنة، وإذا رفع أمر من يفعل ذلك إلى الناظر في أمر المسلمين وجب عليه تأديبه بما يرتدع به كل أحد". ووقع على هذا الجواب أيضا بالموافـقة الشيخ أبو بكر محمد بن أحـمد الشاشي تلميذ الشيخ أبي اسحاق.
ويكفي في بيان فضل أبي الحسن الأشعري ثناء الحافظ البيهقي عليه وهو محدث زمانه وشيخ أهل السنة في وقته فقال كلاما أورده بطوله التاج السبكي فية ذكر شرفءاباء وأجداد أبي الحسن وحسن اعتقاده وفضله وكثرة أصحابه مع ذكر نسبه ثم قال البيهقي رحمه الله: "إلى أن بلغت النوبة إلى شيخنا أبي الحسن الأشعري فلم يحدث في دين الله حَدَثًا ولم يأت فيه ببدعة، بل أخذ أقاويل الصحابة والتابعين ومن بعدهم من الأئمة في أصول الدين فنصرها بزيادة شرح وتبيين " ا. هـ.
وقد وصف الإمام الأشعري الحافظ المتقن أبو عمرو بن الصلاح في طبقاته بقوله: "إمام المتكلمين ".
وقد صنف الشيخ العلامة ضياء الدين أبو العباس أحمد بن محمد بن عمر بن يوسف بن عمر القرطبي رسالة سماها "زجر المفتري على أبي الحسن الأشعري " رد فيها على بعض المبتدعة الذين هجوا الإمام الأشعري ولما وقف عليها الشيخ تقي الدين بن دقيق العيد قرظها.
أما مؤلفات الشيخ الأشعري رحمه الله فكثيرة قـيل إنها بلغت ما يقارب الخمسين مصنفا وقيل أكثر من ذلك، نذكربعضا منها:
ا- إيضاح البرهان في الرد على أهل الزيغ والطغيان.
2- تفسير القرءان، وهوكتاب حافل جامع.
3- الرد على ابن الراوندي في الصفات والقرءان.
4- الفصول في الرد على الملحدين والخارجين عن الملّة.
5- القامع لكتاب الخالدي في الارادة.
6- كتاب الاجتهاد في الأحكام.
7- كتاب الأخبار وتصحيحها.
8 -تاب الإدراك في فنون من لطيف الكلام.
9- كتاب الإمامة.
10-التبيين عن أصول الدين.
11- الشرح والتفصيل في الرد على أهل الإفك والتضليل.
12- العمد في الرؤية.
13- كتاب الموجز.
14- كتاب خلق الأعمال.
15- كتاب الصفات، وهو كبير تكلم فيه على أصناف المعتزلة والجهمية.
16- كتاب الرد على المجسمة .
17- اللمع في الرد على أهل الزيغ والبدع.
18-النقض على الجبائي.
19- النقض على البلخي.
20- جمل مقالات الملحدين.
21- كتاب في الصفات وهو أكبر كتبه نقض فيه ءاراء المعتزلة وفند أقوالهم وأبان زيغهم وفسادهم.
22-أدب الجدل.
23- الفنون في الرد على الملحدين.
24- النوادر في دقائق الكلام.
25- جواز رؤية الله تعالى بالأبصار.
26- كتاب الإبانة. وأما ما تزعم المجمسمة من أن الإمام الأشعري قرر في كتابه الإبانة ما يوافق التجسيم وأن الله حال في السماء فهو مدفوع بأن النسخ التي يعتمدون عليها في نسبة ذلك إليه مدسوسة عليه ولا يستطيعون أن يظهروا نسخة موثوقًا بها إنما هذه النسخة عمل بعض المجسمة، فهل يعقل أن تكون مثل هذه العبارة من كلام أبي الحسن الأشعري وهي: اتفق المسلمون في دعائهم على قول يا ساكن السماء، فهذه فرية ظاهرة يكفي لكونها كذبا وافتراء عليه أن هذا لا يعرف عن أحد من الأشاعرة خواصهم وعوامهم بل ولا عن أحد ممن سبق أبا الحسن الأشعري ولا من لحقه من أهل الإسلام في الزمن الماضي والحاضر.
وقد ساق ابن عساكر عددا وافرا من مؤلفاته لم نذكرها في هذه المقدمة خشية الإطالة فمن شاء فليراجع، وكذا أورد الكثير منها إسماعيل باشا في كتابة هدية العارفين (9).
وعلى مذهبه في الإعتقاد علماء مئات الملايين من المسلمين في الشرق والغرب تدريسا وتعليما ويشهد بذلك الواقع المشاهد، ويكفي لبيان حقية مذهبه في الاعتقاد كـون هؤلاء الحفّاظ الذين هم رءوس أهل الحديث الحافظ أبو بكر الاسماعيلي صاحب المستخرج على البخاري ثم الحافظ العلم المشهور أبو بكر البيهقي، ثم الحافظ الذي وصف بأنه أفضل المحدِّثين بالشام في زمانه ابن عساكر أشاعرة، كان كل واحد من هؤلاء علَمًا في الحديث- في زمانه ثم جاء من هو على هذا
المنوال الحافظ الموصوف بأنه أمير المؤمنين في الحديث أحمد بن علي بن حجر العسقلاني المَكْنِيُّ بأبي الفضل.
فمن حقق عرف أن الأشاعرة هم فرسان ميادين العلم والحديث وفرسان ميادين الجهاد والسنان، ويكفي أن منهم أبو الحسن الباهلي وأبو إسحاق الإسفرايني والحافظ أبو نعيم ا لأصبهاني والقاضي عبد الوهاب المالكي والشيخ أبومحمد الجويني وابنه أبو المعالي إمام الحرمين وأبو منصور التميمي البغدادي والحافظ الاسماعيلي والحافظ البيهقي والحافظ الدارقطني والحافظ الخطيب البغدادي والأستاذ أبو القاسم القشيري وابنه أبو نصر والشيخ أبو إسحاق الشيرازي ونصر المقدسي والفراوي وأبو الوفاء بن عقيل الحنبلي وقاضي القضاة الدامغاني الحنفي وأبو الوليد الباجي المالكي والإمام السيد أحمد الرفاعي والحافظ أبو القاسم بن عساكر وابن السمعاني والحافظ السِّلَفي والقاضي عياض والنووي والإمام فخر الدين الرازي والعزّ بن عبد السلام وأبو عمرو بن الحاجب المالكي وابن دقيق العيد والإمام علاء الدين الباجي وقاضي القضاة تقي الدين السبكي والحافظ العلائي والحافظ زين الدين العراقي وابنه الحافظ ولي الدين وخاتمة الحفاظ ابن حجر العسقلاني وخاتمة اللغويين الحافظ مرتضى الزبيدي الحنفي والشيخ زكريا الأنصاري والشيخ بهاء الدين الرواس الصوفي ومفتي مكة أحمد زيني دحلان ومسند الهند ولي الله الدهلوي ومفتي مصر الشيخ محمد عليش المالكي المشهور وشيخ الجامع الأزهر عبد الله الشرقاوي والشيخ المشهور أبو المحاسن القاوقجي نقطة البيكار في أسانيد المتأخرين والشيخ حسين الجسر الطرابلسي صاحب "الرسالة الحميدية"، والشيخ عبد اللطيف فتح الله مفتي لجيروت، والشيخ عبد الباسط الفاخوري مفتي بيروت، والشيخ محمد بن درويش الحوث البيروتي وابنه عبد الرحمن نقيب أشراف بيروت، والشيخ مصطفى نجا مفتي بيروت، والشيخ أبو محمد الويلتوري المليباري الهندي وقد ألف رسالة سماها "العقائد السنية ببيان الطريقة الأشعرية"، والقاضي الجليل ابن فرحون المالكي، والقاضي أبو بكر محـمد بن الطيب الباقلاني، والحـافظ ابن فورك، وأبو حامد الغزالي، وأبو"الفتح الشهرستاني، والإمام أبو بكر الشاشي القفّال، وأبو علي الدقّاق النيسابوري، والحاكم النيسابوري صاحب المستدرك، والشيخ محمد بن منصور الهدهدي والشيخ أبو عبد الله محمد السنوسي والشيخ محمد بن علّان الصديقي الشافعي والعلامة علوي بن طاهر الحضرمي الحداد صاحب التآليف الكثيرة، والعلامة المتفنن والفقيه المحقِّق الحبيب بن حسين بن عبد الله بلفقيه، وجميع السادة الحضارمة منءال علوي، والسقاف، والجنيد، والعيدروس. وشافعي العصر رفاعي الأوان الشيخ الفقيه المحدث الأصولي عبد الله الهرري وغيرهم من أئمة الدين كثير لا يحصيهم إلا الله.
ومنهم الوزير المشهور نظام الملك والسلطان العادل العالم المجاهد صلاح الدّين الأيوبي طارد الصليبيين من القدس رحمه الله تعالى وجزاه عن المسلمين الخير فإنه أمر أن تذاع أصول العقيدة على حسب عبارات الأشعري على المنابر بعد أذان الفجر وأن تعلم المنظومة التي ألفها له ابن هبة الله المكي للأطفال في الكتاتيب. ومنهم الملك الكامل الأيوبي هازم الصليبيين في دمياط، والسلطان الأشرف خليل بن المنصور سيف الدين قلاوون طارد الصليبيين من بلاد الشام، بل وكل سلاطين المماليك رحمهم الله. ومنهم السلطان محمد العثماني فاتح القسطنطينية الذي جاء فيه حديث رسول الله: لتفتحن القسطنطينية فلنَعم الأمير أميرها ولنَعم الجيش ذلك الجيش) رواه أحـمد، وكذا سائر السلاطين العثمانيين الذين ذبوا عن بيضة المسلمين وحموا حمى المللة قرونًا متتاليةً رحمهم الله.
وليس مرادنا بما ذكرنا حصر الاشاعرة, فمن يحصي نجوم السماء او يحيط علمًا بعدد رمال الصحراء؟ ولكن ما ذكرناه ينبىء عن المراد كما ينبىء عنوان الكتاب عن مضمونه.
------------------------------------------------------------------------------
(1) طبقات الشافعية (2/ 245).
(2) تاريخ بغداد (1 1/ 346-347).
(3) شذرات الذهب (2/ 303- 305).
(4) وفيات ا لأعيان (3/ 284-286).
(5) طبقات الشافعية (1/ 113).
(6) مرءاة الجنان (2/ 298).
(7) الجواهر المضية في طبقات الحنفية 21/ 544- ه 54).
(8) طبقات الشافعية (1/ 47).
(9) هدية العارفين (1/ 676-677)
الأشاعرة و الماتريدية من هم
إن الله تعالى قد قيّض لهذه الأمة المحمدية رجالاً أفذاذًا يذودون عن حياض دينها الإسلامي الحنيف، فيجاهدون بالبيان والسنان، ويقمعون أوهام الملحدين وزيف الزائفين بالأدلة والحجج والبراهين، وقد جعل الله تعالى في كل زمان أئمة هدى يدافعون عن العقيدة الحقة فيصنفون التصانيف والردود.
عجيب أمر التهجم الذي يطال الأشاعرة والماتريدية في يومنا الحاضر ... علمًا أن المسلمين ومئات ملايينهم في الدنيا أشاعرة أو ماتريدية من حيث المعتقد فأردت أن أبين في مقالي متذكرًا بل مذكرًا بمنهج لطالما كان عليه السلف والخلف من هذه الأمة المحمدية. بعد أن تعرض الكثيرون إلى سيرة هؤلاء الأمة ونهجهم.
فمن هو الأشعري؟
هو أبو الحسن علي بن اسماعيل بن أبي بشر اسحاق بن سالم بن اسماعيل بن عبد الله بن موسى بن بلال بن أبي بردة عامر بن صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم أبي موسى الأشعري.
إليكم البداية مع جدّه صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث نزل قول الله تعالى:
{يا أيها الذين ءامنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لائم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم} (المائدة / 54).
فيشير الحبيب صلى الله عليه وسلم بعد نزولها إلى أبي موسى الأشعري قائلاً: هم قوم هذا وضرب بيده على ظهر أبي موسى الأشعري، ولما نزلت هذه الآية قدم بعد ذلك بيسير سفائن الأشعريين وقبائل اليمن فان لهم بلاء حسن في الإسلام فقد روى البخاري في صحيحه من حديث أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "أتاكم أهل اليمن هم أرق أفئدة وألين قلوبًا الايمان يمان والحكمة يمانية .." كما أخرج البخاري في صحيحه عن عمران بن الحصين أن النبي أتاه أناس من بني تميم فقال عليه الصلاة والسلام: "اقبلوا البشرى يا بني تميم" قالوا بشرتنا فأعطنا مرتين فتغير وجهه، فجاءه أناس من أهل اليمن فقال: يا أهل اليمن اقبلوا البشرى إذ لم يقبلها بنو تميم قالوا: قد قبلنا يا رسول الله جئناك لنتفقه في الدين ولنسألك عن أول هذا الأمر ما كان قال: "كان الله ولم يكن شىء غيره". وفيه دليل على أن الله موجود في الأزل قبل خلق الأماكن والأزمان وقبل الخلق كان ولا مكان وهو الآن على ما عليه كان ليس له كمية صغيرة ولا كبيرة ...
هنا كانت البداية مع الجد الأكبر سيدنا أبي موسى الأشعري وتعالوا ننظر في الحفيد أبي الحسن الذي ولد سنة مائتين وسبعين وتوفي سنة 333هــ الذي كان سنيًا من بيت سنّة وفي بدء حياته درس مذهب الاعتزال ثم تاب ورقي المسجد الجامع بالبصرة في يوم الجمعة ونادى بأعلى صوته: أيها الناس من عرفني فقد عرفني ومن لم يعرفني فإني أعرفه بنفسي أنا فلان ابن فلان كنت أقول بخلق القرءان وأن أفعال البشر أنا أفعلها وأنا تائب مقلع، معتقد للرد على المعتزلة مخرج لفضائحهم ومعايبهم. وبدأ رحمه الله رحلته في تأييد الشريعة وتفنيد مزاعم أهل الشبه بتآليف تدحض شبههم حتى قال الفقيه أبو بكر الصيرفي: كانت المعتزلة قد رفعوا رؤوسهم حتى نشأ الأشعري فحجزهم في أقماع السماسم، وقال السبكي في طبقات الشافعية الكبرى: واعلم أن أبا الحسن الأشعري لم ينشىء مذهبًا إنما هو مقرر لمذاهب السلف مناضل عما كانت عليه صحابة رسول الله فالانتساب اليه إنما هو باعتبار أنه عقد على طريق السلف نطاقًا وتمسك به وأقام الحجج والبراهين عليه فصار المقتدي به في ذلك السالك سبيله في الدلائل يسمّى أشعريًا ا.هــ.
وقال الشيخ عز الدين بن عبد السلام:
"واعتقاد الأشعري رحمه الله مشتمل على ما دلت عليه أسماء الله التسعة والتسعون" ويقول رضي الله عنه في ءاخر عقيدته " فهذا جملة من اعتقاد الأشعري رحمه الله تعالى واعتقاد السلف وأهل الطريقة والحقيقة" ويقول تاج الدين عبد الوهاب السبكي أيضًا: وهؤلاء الحنفية والشافعية والمالكية وفضلاء الحنابلة في العقائد يد واحدة كلهم على رأي أهل السنة والجماعة يدينون لله تعالى بطريق شيخ السنّة أبي الحسن الأشعري رحمه الله. ثم يقول: وبالجملة عقيدة الأشعري هي ما تضمنته عقيدة أبي جعفر الطحاوي التي تلقاها علماء المذاهب بالقبول ورضوها عقيدة. ويقول الشيخ محمد العربي التبّان شيخ المالكية في الحرم المكي: فحول المحدثين من بعد أبي الحسن إلى عصرنا هذا أشاعرة وكتب التاريخ والطبقات ناطقة بذلك.
وأما من استفاد من علم الأشعري وكتبه فكثير وهو أكثر من أن نحصيه في مقال ولكن في ما ذكرنا غيض من فيض وقد كفانا البيهقي المؤنة رحمه الله حين قال بعد ثناء عليه: إلى أن بلغت النوبة إلى شيخنا أبي الحسن الأشعري فلم يحدث في دين الله حدثًا ولم يأت في ببدعة، بل أخذ أقاويل الصحابة والتابعين ومن بعدهم من الأئمة في أصول الدين فنصرها بزيادة شرح وتبيين" ا.هــ.... وأما مؤلفات الأشعري رحمه الله فكثيرة قيل إنها بلغت ما يقارب الخمسين وعلى مذهبه في الاعتقاد مئات الملايين من المسلمين في الشرق والغرب تدريسًا وتعليمًا ويكفي في حقية مذهبه كون هؤلاء الأكابر من العلماء الحفاظ على مذهبه كأبي بكر الإسماعيلي والبيهقي وابن عساكر الدمشقي وكذلك العسقلاني أبو الفضل، وأبو الحسن الباهلي وأبو اسحق الاسفراييني والحافظ أبو نعيم الأصبهاني والإمام السيد أحمد الرفاعي والقاضي عياض والإمام النووي والإمام فخر الدين الرازي وابن دقيق العيد والحافظ مرتضى الزبيدي والشيخ زكريا الأنصاري ومفتي مصر الشيخ محمد عليش المالكي وشيخ الجامع الأزهر عبد الله الشرقاوي وغيرهم من ائمة الدين كثير لا يحصيهم إلا الله سبحانه.
أحبائي القراء لم أرد بما ذكرت إحصاء الأشاعرة أو حصر فضائل الأشعري فمن ذا الذي يحصي عدد رمال الصحراء ولكن أردت أن أتوقف مذكرًا نفسي مذكرًا القارىء ببعض من الماضي الذي نحتاجه في حاضرنا ولأقول لبعض المتطاولين: كفوا ألسنتكم عن الأشعري وأصحابه فيا ويل من كان الاشعري وأصحابه فيا ويل من كان الأشعري خصمه وكفوا ألسنتكم عن أصحابه كالنووي وابن حجر من أكابر أهل السنّة، وقد كان سيدنا محمد الفاتح الذي فتح القسطنطينية وقال فيه الرسول معجزة له عليه السلام: "لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها، ولنعم الجيش ذلك الجيش” أشعريًا ماتريديا رضي الله عنه وأرضاه هو وسائر السلاطين العثمانيين.
فلذلك نحن مع القشيري حيث قال:
شيئان من يعذلني فيهما فهو على التحقيق مني بري
حب أبي بكر إمام الهدى ثم اعتقادي مذهب الأشعري
من هو الماتريدي:
•1 هو أبو منصور محمد بن محمد بن محمود الماتريدي السمرقندي، والماتريدي نسبة إلى ما تريد، وهي محلة بسمرقند فيما وراء النهر.
•2 وكان الإمام الماتريدي والإمام أبو الحسن الأشعري الإمامين الجليلين اللذين حررا عقيدة اهل السنة والجماعة بالأدلة النقلية والعقلية، وقد لقب الماتريدي بــ "إمام الهدى" و "إمام المتكلمين" وغير ذلك من الألقاب وهي ألقاب تظهر مكانته في نفوس مسلمي عصره ومؤرخيه. ورغم ذيوع اسمه واشتهاره واشتهار فرقة الماتريدية المنسوبة إليه فقد كان المؤرخون الذين كتبوا عنه قلة.
ولم تذكر المراجع سنة ميلاده بالتحديد ولكن يمكن القول إنه ولد في عهد المتوكل الخليفة العباسي، وإنه يتقدم بمولده على الإمام أبي الحسن الأشعري ببضع وعشرين سنة.
ولد في بيت من البيوت التي شغفت بالعلوم الدينية، فنشأ وتعلم علوم الدين منذ صغره، ولم يتقاعس لحظة في الدعوة إلى مذهب أهل السنة والدفاع عنه والتمسك به، ولم يفتر عزمه عن الاشتغال بعلم الكلام والتأليف فيه ونصب الأدلة والحجج والبراهين.
مشايخه: إن المراجع لم تذكر إلا القليل من مشايخه الذين تلقى علومه عنهم إلا أنهم جميعًا يصل سندهم في العلم إلى الإمام الجليل أبي حنيفة النعمان، وقد ذكر صاحب "الجواهر المضيئة" أن الماتريدي تخرج بأبي نصر أحمد بن العباسي بن الحسين العياضي، وتفقه على أبي بكر أحمد الجوزجاني ونصير بن يحيى البلخي، ومحمد بن مقاتل الرازي.
أما أبو نصر العياضي وأبو بكر الجوزجاني فقد تفقها على الإمام أبي سليمان موسى ابن سليمان الجوزجاني، وهذا الأخير تفقه على صاحبي أبي حنيفة: أبي يوسف القاضي ومحمد بن الحسين الشيباني اللذين تفقها على أبي حنيفة. وأما نصير البلخي ومحمد بن مقاتل الرازي فقد تفقها على الإمامين أبي مطيع الحكم بن عبد الله البلخي، وأبي مقاتل حفص بن سلم السمرقندي اللذين تفقها على الإمام أبي حنيفة كذلك.
وأما علومه فقد دارت حول تأويل القرءان الكريم وأصول الفقه وعلم الكلام وما يتعلق به، وقد درس العلوم العقلية، كما درس العلوم النقلية درسًا متقنًا عميقًا، ووقف على دقائقها حتى صار إمامًا مبرز في الفقه والتأويل وعلم الكلام.
وبعد أن نال القسط الوفير من الثقافة والعلم انصرف الى التدريس والتثقيف، فصنف وألف وكرس حياته لحماية الإسلام ونصرة عقيدة أهل السنة والجماعة حتى وصفه العلماء بأنه كان إمامًا جليلاً، مناضلاً عن الدين، موط لعقائد أهل السنة، قطع المعتزلة وذوى البدع في مناظرتهم، وخصمهم في محاوراتهم إلى أن أسكتهم.
مؤلفاته: كان للإمام أبي منصور الماتريدي العديد من المؤلفات، ومنها ما كان في علم الكلام والعقيدة، ومنها ما كان في أصول الفقه ومنها ما كان في تأويل القرءان.
أما في علم الكلام فله عدة مصنفات منها كتاب "التوحيد"، وكتاب "المقالات"، وكتاب "الرد على القرامطة"، و "بيان وهم المعتزلة"، و "رد الأصول الخمسة لأبي محمد الباهلي" و "أوائل الأدلة للكعبي"، و "رد كتاب وعيد الفساق للكعبي"، و "رد تهذيب لجدل للكعبي" وغيرها.
وأما في علم أصول الفقه فقد ذكرت كتب الطبقات وكتاب "كشف الظنون" كتابين في أصول الفقه هما: كتاب "الجدل"، وكتاب "مأخذ الشرائع في أصول الفقه" وجاء في "بدائع الصنائع" في أثناء استنباط أوقات الصلوات الخمس من قوله تعالى:
{فسبحان الله حين تمسون وحين تصبحون وله الحمد في السموات والأرض وعشيًا وحين تظهرون} (سورة الروم) قال الشيخ أبو منصور الماتريدي السمرقندي إنهم فهموا من هذه الآية فرضية الصلوات الخمس، ولو كانت أفهامهم مثل أفهام أهل زماننا لما فهموا منها سوى التسبيح المذكور.
وأما مؤلفات الإمام الماتريدي في تأويل القرءان فمنها كتاب "تأويلات أهل السنة"، وقد ذكره بهذا العنوان صاحب "كشف الظنون" ولكن نسخة "كوبريلي" عنونت بــ "تاويلات الماتريدي في التفسير"، وأما أصحاب الطبقات فقد ذكروه باسم "تأويلات القرءان" وهذا الاسم تحمله النسخ الأخرى الموجودة في تركيا والهند وألمانيا والمدينة المنورة ودمشق والمتحف البريطاني وطشقند. ولعل الكتاب كان يحمل الإسمين في مبتدأ الأمر فاختصره المؤرخون وأصحاب الطبقات على ذلك.
وقد وصف الإمام عبد القادر القرشي المتوفى سنة 775هــ هذا الكتاب بقوله: "هو كتاب لا يوازيه فيه كتاب بل لا يدانيه شىء من تصانيف من سبقه في ذلك الفن".
وجاء في نسخة مكتبة "خدابخش" في الصحيفة الولى إسناد كتاب "تأويلات القرءان” إلى الماتريدي، وجاء فيما يليه مقدمة عن مؤلفات هذا الكتاب وعن تعريف التفسير والتأويل، وجاء في مقدمة الكتاب أيضًا ما نصه: "قال الشيخ الإمام الزاهد علم الدين شمس العصر، رئيس أهل السنة والجماعة أبو بكر محمد بن أحمد السمرقندي رحمه الله تعالى: إن كتاب التاويلات المنسوب إلى الشيخ الإمام أبي منصور الماتريدي رحمه الله كتاب جليل القدر، عظيم الفائدة في بيان مذهب أهل السنة والجماعة في أصول التوحيد، ومذهب أبي حنيفة وأصحابه رحمهم الله في أصول الفقه وفروعه على موافقة القرءان". ا.هــ.
وذكر صاحب "كشف الظنون" كتاب "تأويلات القرءان" تحت عنوان "تأويلات الماتريدية في بيان أصول أهل السنة وأصول التوحيد"، وصرح بأنه ثمانية مجلدات وأن الشيخ علاء الدين بن محمد بن أحمد هو الذي جمعه.
وجاء في "تأويلات القرءان" في تفسير قوله تعالى: {قل رب أرني أنظر إليك قال لن تراني} قوله: "والقول بها - يعني رؤية الرب - لازم عندنا في الآخرة، وحق من غير إدارك ولا تفسير" ا.هــ أي من غير تشبيه ولا كيفية.
ومن تصانيف الإمام أبي منصور الماتريدي كتاب "شرح الفقه الأكبر"، وهو كتاب يعرف محتواه من عنوانه، فقد تناول كتاب "الفقه الأكبر" لأبي حنيفة بالشرح والإيضاح والتفسير.
وفاته: ذكر صاحب كتاب "كشف الظنون" أن الإمام الماتريدي توفي سنة 332هــ، غير أنه عاد بعد ذلك في مواطن أخرى فاتفق مع جمهرة المؤرخين على أن وفاته كانت سنة 333هــ. وذكر عبد الله القرشي في "الفوائد البهية" بأنه توفي سنة 333هــ، وأن قبره بسمرقند.
... وهكذا يتبين لنا من خلال استعراضنا لحياة الإمام أبي منصور الماتريدي كيف اولى هذا العالم وأمثاله علم الكلام الذي يتعلق ببيان صفات الله وتنزيهه عن صفات النقصان الرعاية والاهتمام مما يثبت من جديد أن هذا العلم هو أشرف العلوم وأعظمها على الإطلاق.
قول أهل السنة والجماعة في الآيات المتشابهة :
"نقول في الصفات المشكلة إنها حق وصدق على المعنى الذي أراده الله ومن تأولها نظرنا فإن كان تأويله قريبًا على مقتضى لسان العرب لم ننكر عليه، وإن كان بعيدًا توقفنا عنه ورجعنا الى التصديق مع التنزيه" نقله الحافظ في الفتح (13 / 183).
وهذا هو عين مذهب جماهير الأمة من أهل السنة والجماعة أي (مذهب الأشاعرة والماتريدية) ومما نحب أن نلفت نظر القارىء الكريم إليه مما حصل فيه اللبس والخلط عند من ينتحل السلفية أن هؤلاء يثبتون الكيفية لله تعالى ويزيدون بقولهم: له كيف لا ندركه، وأن الكيف مجهول لدينا فقط لكن للصفة كيفًا !!!.
وقد غايروا بمقولتهم الفاسدة المذهب الصحيح الثابت عن أهل السنة والجماعة روى الذهبي بإسناده في مختصر العلو عن الوليد قال: سألت الأوزاعي والليث بن سعد ومالكًا والثوري عن هذه الأحاديث التي فيها الرؤية وغير ذلك فقالوا: امضها بلا كيف (مختصر العلو ص 143).
بيان من هم السلف رضوان الله عليهم
والسلف أهل القرون الثلاثة الذين ذكرهم الرسول بقوله: "خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم" - رواه البخاري - فعلى تفسير القرن بمائة سنة فالسلف هم من كانوا ضمن الثلاثمائة، ومنهم أي من العلماء من جعل منتهى السلف سنة مائتين وعشرين، والأول هو المشهور، ويقوي ذلك رواية ابن حبان لحديث: "خير الناس" اتي فيها ذكر "ثم الذين يلونهم" ثلاث مرات، واختار ذلك الحافظ ابن عساكر في رسالته التي ألفها في الدفاع عن أبي الحسن الأشعري.
الجماعة
وليعلم أن أهل السنة هم جمهور الأمة المحمدية وهم الصحابة ومن تبعهم في المعتقد أي أصول الاعتقاد، وهي الأمور الستة المذكورة في حديث جبريل الذي قال فيه الرسول: "الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره". وأفضل هؤلاء أهل القرون الثلاثة المرادون بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: "خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم" والقرن معناه مائة سنة كما رجح ذلك الحافظ أبو القاسم بن عساكر وغيره، وهم المرادون أيضًا بحديث الترمذي وغيره: "أوصيكم بأصحابي ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم" وفيه قوله: "عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد، فمن أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة" صححه الحاكم وقال الترمذي: حسن صحيح، وهم المرادون أيضًا بالجماعة الواردة فيما رواه أبو داود من حديث معاوية: "وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين، ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة وهي الجماعة". والجماعة هم السواد الأعظم ليس معناه صلاة الجماعة، كما يوضح ذلك حديث زيد بن ثابت ان الرسول صلى الله عليه وسلم قال: "ثلاث لا يغل عليهن قلب المؤمن: إخلاص العمل، والنصيحة لولي الأمر، ولزوم الجماعة، فإن دعوتهم تكون من وراءهم". قال الحافظ ابن حجر: حديث حسن.
الفرقة
ثم حدث بعد مائتين وستين سنة انتشار بدعة المعتزلة وغيرهم فقيض الله تعالى إمامين جليلين أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي رضي الله عنهما فقاما بإيضاح عقيدة أهل السنة التي كان عليها الصحابة ومن تبعهم بإيراد أدلة نقلية وعقلية مع رد شبه المعتزلة وهم فرق عديدة بلغ عددهم عشرين فرقة، فقاما بالرد على كل هذه الفرق أتم القيام برد شبههم وإبطالها فنسب إليهما أهل السنة، فصار يقال لأهل السنة أشعريون وماتريديون.
فإن قيل إن بين الأشاعرة والماتريدية اختلافاً في مسائل العقيدة فكيف يكون كل منهما الفرقة التي قال الرسول: "فمن أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة" . فالجواب: أنه ليس بينهما اختلاف في أصول العقيدة إنما الخلاف بينهما في بعض فصول العقيدة وفروعها، وهذا لا يقدح في كونهما الفرقة الناجية، فإن هذا الخلاف كالخلاف الذي حصل بين الصحابة في رؤية النبي ربه ليلة المعراج، فقد نفتها عائشة وابن مسعود وأثبتها عبد الله بن عباس وأصحابه من التابعين وأبو ذر الغفاري، مع أن الصحابة متفقون في أصول العقيدة. ومن هذه الفرقة يكون المجدد الذي أخبر الرسول أنه يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة وهو من حديث أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم "إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها". رواه أبو داود وغيره.
فيجب الاعتناء بمعرفة عقيدة الفرقة الناجية الذين هم السواد الأعظم، وأفضل العلوم علم العقيدة لأنه يبين أصل العقيدة التي هي أصل الدين، وهذا العلم سماه أبو حنيفة الفقه الأكبر. فيا طلاب الحق لا يهولنكم قدح المشبهة المجسمة في هذا العلم بقولهم إنه علم الكلام المذموم لدى السلف، ولم يدروا أن علم الكلام المذموم هو ما ألفه المعتزلة على اختلاف فرقهم والمشبهة على اختلاف فرقهم من كرامية وغيرها فإنهم قد افترقوا الى عدة فرق بينها من ألفوا في بيان الفرق كالإمام أبي منصور عبد القاهر بن طاهر البغدادي
ومن أشهر ما ألف في هذا العلم هذه العقيدة المشهوة بالعقيدة الطحاوية التي مؤلفها من السلف، وقد نص على أن ما يذكره في هذه العقيدة هو ما عليه أهل السنة يعني الصحابة ومن بعدهم إلى عصره عامةً، وخص ذكر الإمام أبي حنيفة وصاحبيه القاضي أبي يوسف ومحمد ابن الحسن بتسميتهم بأسمائهم.
ثم بعد ان بينا أن الأشاعرة والماتريدية فرقة واحدة في العقيدة يصح لنا أن نقول: الأشعري ماتريدي والماتريدي أشعري.
وكان الشافعي أتقن هذا العلم علم الكلام الذي لأهل السنة قبل أن يتقن علم الفقه، والدليل على ذلك ما ثبت عنه أنه جاءه حفص الفرد المعتزلي فناظره فقطعه الشافعي بالحجة في مسئلة خلق الكلام، فلما أصرً حفص على قوله القرءان مخلوق قال الشافعي: "لقد كفرت بالله العظيم".
وما قيل في الإمام الجليل أبي الحسن الأشعري يقال في الإمام أبي منصور الماتريدي لأنه مثله قام بتقرير عقيدة السلف بالأدلة النقلية والعقلية بإيضاح واسع، فقد جمع هذان الإمامان الإثبات مع التنزيه فليسا على التشبيه ولا التعطيل ولعن الله من يسمي الأشعري أو الماتريدي معطلاً، فهل خالفا التنزيه الذي ذكره الله بقوله {ليس كمثله شىء} فإنهما نفيا عن الله الجسمية وما ينبني عليها، وهذا ذنبهما عند المشبهة كالوهابية ومن سبقهم من المشبهة. فإن المشبهة قاست الخالق بالمخلوق فنفت موجودًا ليس جسمًا، والإمامان ومن تبعهما وهم الأمة المحمدية قالوا إن الله لو كان جسمًا لكان له أمثال لا تحصى.
يتبع مع الجماعة
وهذا هو دين الله الذي كان عليه السلف الصالح وتلقاه عنهم الخلف الصالح، وطريقة الأشعري والماتريدي في أصول العقائد متحدة.
فالمذهب الحق الذي كان عليه السلف الصالح هو ما عليه الأشعرية والماتريدية وهم مئات الملايين من المسلمين فكيف يكون هؤلاء السواد الأعظم على ضلال، وتكون شرذمة هي نحو ثلاثة ملايين على الحق، والصواب أن الرسول عليه السلام أخبر بأن جمهور أمته لا يضلون وذلك من خصائص هذه الأمة، ويدل على ذلك ما رواه الترمذي وابن ماجة وغيرهما: "إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة" وعند ابن ماجة زيادة: "فإذا رأيتم اختلافًا فعليكم بالسواد الأعظم".
ويقوي هذا الحديث الحديث الموقوف على أبي مسعود البدري: "وعليكم بالجماعة فإن الله لا يجمع هذه الأمة على ضلالة" قال الحافظ ابن حجر: "وإسناده حسن"، والحديث الموقوف على عبد الله بن مسعود وهو أيضًا ثابت عنه: "ما رءاه المسلمون حسنًا فهو عند الله حسن، وما رءاه المسلمون قبيحًا فهو عند الله قبيح"، قال الحافظ ابن حجر: "هذا موقوف حسن".
ولا ينافي ما قررناه من أن الجمهور معصومون من الضلالة ما صح مرفوعًا إلى النبي صلى الله عليه سلم من قوله: "لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة". فإن هذا أريد به طائفة متمسكة من بينهم بالدين على الكمال ولا شك أن المتمسكين بالدين على الكمال هم أقل الأمة، وليس معنى ذلك أن أكثر المنتسبين إلى الإسلام يكونون ضالين من حيث العقيدة خارجين عن الإسلام كما صرحت بذلك الوهابية ووافقهم أبو الأعلى المودودي، فعندهم جمهور المنتسبين للإسلام ليسوا على الهدى بل على الشرك، وقد صح أن أهل الجنة مائة وعشرون صفًا ثمانون من هذه الأمة، فلا يمكن أن يكون هؤلاء الثمانون هذه الشرذمة الوهابية، وهل كانت الوهابية قبل قرنين، فإن معتقدها منبثق من محمد بن عبد الوهاب المتوفى سنة مائتين وألف وست للهجرة وبعض معتقداتها مأخوذ من أحمد بن تيمية المتوفى سنة سبعمائة وثمان وعشرين للهجرة وهو شذ عن ما كان عليه من قبله من أهل الحق بقوله: إن جنس العالم ليس حادثًا إنما الحادث الأفراد أي الأشخاص المعينة فكل شخص وفرد عنده حادث ولكن إلى ما لا نهاية له ولا ابتداء، فجعل العرش أزليًا بنوعه وجنسه بمعنى أن العرش لم يزل مع الله ولكن عينه ليس دائمًا بل يتجدد كل ءان بعد عدم، وقد نقل ذلك عنه الإمام جلال الدين الدواني وهو من ثقات العلماء كما وثقه الحافظ السخاوي في البدر اللامع في تراجم أهل القرن التاسع، ونسب إلى ابن تيمية ذلك الحافظان الجليلان المعاصران له وهما الحافظ المجتهد تقي الدين السبكي والحافظ أبو سعيد العلائي.
من الذين بشر بهم النبي
الأشاعرة والماتريدية هم أهل السنة
قال تاج الدين السبكي في طبقاته (3 / 36): "ذكر دليل استنبطه علماؤنا من الحديث الصحيح دال على أن أبا الحسن وفئته على السنّة وأن سبيلهم سبيل الجنة.
زعم طوائف من أئمتنا أن سيدنا ومولانا وحبيبنا محمد المصطفى صلى الله عليه وسلم بشّر بالشيخ أبي الحسن، وأشار إلى ما هو عليه في حديث الأشعريين، حيث قال صلى الله عليه وسلم: "الايمان يمانٍ والحكمة يمانية، أتاكم أهل اليمن، هم أرق أفئدة وألين قلوبًا". أخرجه البخاري ومسلم .
وفي حديث أنه صلى الله عليه وسلم قال: "يقدم قوم هم أرق أفئدة منكم" فقدم الأشعريون، فيهم أبو موسى ... الحديث.
وفي حديث لما نزلت: {فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه} قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "هم قوم هذا" وضرب بيده على ظهر أبي موسى الأشعري.
وقد استوعب الحافظ في كتاب "التبيين" الأحاديث الواردة في هذا الباب وهذا ملخصها:
قال علماؤنا: بشّر صلى الله عليه وسلم بأبي الحسن فيها إشارةً وتلويحًا، كما بشر بأبي عبد الله الشافعي رضي الله عنه في حديث: "عالم قريش يملأ طباق الأرض علمًا" ومالك رضي الله عنه، وفي حديث: "يوشك أن يضرب الناس ءاباط الإبل فلا يجدون عالمًا أعلم من عالم المدينة".
وممن وافق على هذا التأويل وأخذ به من حفاظ المحدثين وأئمتهم الحافظ الجليل أبو بكر البيهقي، فيما أخبرنا به يحيى بن فضل الله العمري، في كتابه، عن مكي بن علان، أخبرنا الحافظ أبو القاسم الدمشقي، أخبرنا الشيخ أبو عبد الله محمد بن الفضل الفراوي، أخبرنا أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي الحافظ، قال: أما بعد، فإن بعض أئمة الأشعريين رضي الله عنهم ذاكرني بمتن الحديث الذي أنبأنا أبو عبد الله محمد بن عبد الله الحافظ، حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب، حدثنا ابراهيم ابن مرزوق، حدثنا وهب بن جرير، وأبو عامر العقدي، قالا: حدثنا شعبة، عن سماك بن حرب، عن عياض الأشعري قال: لما نزلت: {فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه} أومأ النبي صلى الله عليه وسلم إلى أبي موسى، فقال: "هم قوم هذا".
قال البيهقي: وذلك لما وجد من الفضيلة الجليلة، والمرتبة الشريفة (في هذا الحديث) للإمام أبي الحسن الأشعري رضي الله عنه، فهو من قوم أبي موسى وأولاده، الذين أوتوا العلم، ورزقوا الفهم، مخصوصا من بينهم بتقوية السنة وقمع البدعة، بإظهار الحجَّة وردّ الشبهة، والأشبه أن يكون رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما جعل قوم أبي موسى من قومٍ يحبهم الله ويحبونه لما علم من صحة دينهم، وعرف من قوة يقينهم، فمن نحا في علم الأصول نحوهم، وتبع في نفي التشبيه مع ملازمة الكتاب والسنة قولهم جعل من جملتهم. هذا كلام البيهقي.
ونحن نقول ولا نقطع على رسول الله صلى الله عليه وسلم: يشبه أن يكون نبي الله صلى الله عليه وسلم إنما ضرب على ظهر أبي موسى رضي الله عنه في الحديث الذي قدمناه، للإشارة والبشارة بما يخرج من ذلك الظهر في تاسع باطن، وهو الشيخ أبو الحسن، فقد كانت للنبي صلى الله عليه وسلم إشارات لا يفهمها إلا الموفقون المؤيدون بنور من الله، الراسخون في العلم ذوو البصائر المشرقة، {ومن لم يجعل الله له نورًا فما له من نور} .
ثم قال "ذكر بيان أن طريقة الشيخ التي عليها المعتبرون من علماء الإسلام، والمتميّزون من المذاهب الأربعة، في معرفة الحلال والحرام، والقائمون بنصرة (دين) سيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام.
(قد) قدمنا في تضاعيف الكلام ما يدلّ على ذلك، وحكينا لك مقالة الشيخ ابن عبد السلام، ومن سبقه إلى مثلها، وتلاه على قولها، حيث ذكروا أن الشافعية، والمالكية، والحنفية، وفضلاء الحنابلة أشعريون. هذه عبارة ابن عبد السلام، شيخ الشافعية. وابن الحاجب شيخ المالكية، والحصيري شيخ الحنفية، ومن كلام ابن عساكر حافظ هذه الأمة الثقة الثبت: هل من الفقهاء الحنفية، والمالكية، والشافعية، إلا موافق الأشعري، ومنتسب إليه، وراضٍ بحميد سعيه في دين الله و مثن بكثرة العلم عليه، غير شرذمة قليلة تضمر التشبيه وتعادي كل موحد يعتقد التنزيه، أو تضاهي قول المعتزلة في ذمّه، وتباهى بإظهار جهرها بقدرة سعة علمه".
إلزمي نفسي بريدي عن هداهم لا تحيدي
فأنا أعلنتُ أني أشعريٌّ ماتريدي
وقال أيضًا: "أنا أعلم أن المالكية كلهم أشاعرة لا أستثني أحدًا، والشافعية غالبهم أشاعرة. لا أستثني إلا ممن لحق بهم منهم بتجسيم أو اعتزال، ممن لا يعبأ الله به، والحنفية أكثرهم أشاعرة، أعني يعتقدون عقد الأشعري، لا يخرج منهم إلا من لحق منهم بالمعتزلة، والحنابلة أكثر فضلاء متقدميهم أشاعرة، لم يخرج منهم من عقيدة الأشعري إلا من لحق بأهل التجسيم، وهم في هذه الفرقة من الحنابلة أكثر من غيرهم" ا.هــ.
التعطيل
أبو الحسن الأشعري وأبو منصور الماتريدي قاما بتقرير عقيدة السلف بالأدلة النقلية والعقلية بإيضاح واسع، فقد جمع هذان الإمامان الإثبات مع التنزيه فليسا على التشبيه ولا التعطيل، ولعن الله من يسمي الأشعري والماتريدي معطلاً، فهل خالفا التنزيه الذي ذكره الله بقوله ((ليس كمثله شيء)) (سورة الشورى) ، فإنهما نفيا عن الله الجسمية وما ينبني عليها، وهذا ذنبهما عند المشبهة في هذا العصر ومن سبقهم من المشبهة أيضاً.
فإن المشبهة قاست الخالق بالمخلوق فنفت موجوداً ليس جسماً، والإمامان ومن تبعهما وهم الأمة المحمدية قالوا إن الله لو كان جسماً لكان له أمثال لا تحصى.
وبارك الله فيكم
وقال الشيخ محمد أمين الشهير بابن عابدين الحنفي في "رد المحتار على الدر المختار": "أهل السنة والجماعة وهم الأشاعرة والماتريدية".
وقال الحافظ الفقيه الحنفي مرتضى الزبيدي في "اتحاف السادة المتقين" (2 / 6 - 7): " (الفصل الثاني) أذا أطلق أهل والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية، قال الخيالي في حاشيته على شرح العقائد الاشاعرة هم أهل السنة والجماعة هذا هو المشهور في ديار خراسان والعراق والشام وأكثر الاقطار في ديار ما وراء النهر يطلق بذلك على الماتريدية أصحاب الامام أبي منصور وبين الطائفتين اختلاف في المسائل كمسئلة التكوين وغيرها ا.هــ
وقال الكستلي في حاشيته عليه المشهورمن أهل السنة في ديار خراسان والعراق والشام وأكثر الاقطار هم الأشاعرة أصحاب أبي الحسن الأشعري أول من خالف أبا علي الجبائي ورجع عن مذهبه الى السنة أي طريق النبي صلى الله عليه وسلم والجماعة أي طريقة الصحابة رضي الله عنهم وفي ديار ما وراء النهر الماتريدية أصحاب أبي منصور الماتريدي ا.هــ.
وقال ابن سبكي في شرح عقيدة ابن الحاجب اعلم أن أهل السنة والجماعة كلهم قد اتفقوا على معتقد واحد فيما يجب ويجوز ويستحيل وان اختلفوا في الطرق والبادىء الموصلة لذلك أو في لمية ما هنالك وبالجملة فهم بالاستقراء ثلاث طوائف الأول أهل الحديث ومعتمد مباديهم الأدلة السمعية أعني الكتاب والسنة والإجماع الثانية أهل النظر العقلي والصناعة الفكرية وهم الأشعرية والحنفية وشيخ الأشعرية أبو الحسن الأشعري وشيخ الحنفية أبو منصور الماتريدي وهم متفقون في المبادىء العقلية في كل مطلب يتوقف السمع عليه وفي المبادىء السمعية فيما يدرك العقل جوازه فقط والعقلية والسمعية في غيره. ا.هــ.
وليعلم أن كلا من الإمامين أبي الحسن وأبي منصور رضي الله عنهما وجزاهما عن الإسلام خيرًا لم يبدعا من عندهما رأيا ولم يشتقا مذهبا انما هما مقرران لمذاهب السلف مناضلان عما كانت عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فأحدهما قام بنصرة نصوص مذهب الشافعي وما دلت عليه والثاني قام بنصرة نصوص مذهب أبي حنيفة وما دلت عليه وناظر كل منهما ذوي البدع والضلالات حتى انقطعوا وولوا منهزمين وهذا في الحقيقة هو أصل الجهاد الحقيقي الذي تقدمت الاشارة اليه فالانتساب اليهما انما هو باعتبار أن كلا منهما عقد على طريق السلف نطاقًا وتمسك وأقام الحجج والبراهين عليه فصــار المقتــدى بــه في تلـــك المسالك والدلائل ويسمى أشعريًا وماتريديًا .ا.هــ
من موقع سفينة النجاة

لاحتفال بالمولد النبوي الاحتفال بمولد النبي صلى الله عليه وآله وسلم - عمار كاظم جريدة الوطن الكويتية 2005/4/14 لقد طال النزاع في الآونة الاخيرة عن

لاحتفال بالمولد النبوي
-
عمار كاظم
جريدة الوطن الكويتية 2005/4/14

لقد طال النزاع في الآونة الاخيرة عن طريق وسائل الأعلام وغيرها في الاحتفال بمولد النبي الأكرم، وقد رفع بعضهم شعار البدعة فيه بينما يراه الكثيرون انه من السنة. حب النبي في الكتاب والسنة: ولا شك أن حب الإنسان لذاته من ابرز مصاديق الحب، وهو أمر بديهي لا يحتاج إلى البيان، ومن هذا المنطق حب الإنسان لما يرتبط به أيضا، فهو كما يحب نفسه يحب كذلك لكل ما يمت إليه بصلة، سواء كان اتصاله به جسمانيا كالأولاد والعشيرة، أو معنويا كالعقائد والأفكار والآراء والنظريات التي يتبناها، وربما يكون حبه للعقيدة اشد من حبه لأبيه وأمه فيذب عن حياض العقيدة بنفسه وتكون العقيدة أغلى عنده من كل شيء حتى نفسه التي بين جنبيه. فإذا كانت للعقيدة هذه المنزلة العظيمة تكون لمؤسسها ومغذيها والدعاة إليها منزلة لا تقل عنها اذ لولاهم لما قام للعقيدة عمود، ولا اخضر لها عود، ولا جل ذلك كان الأنبياء والأولياء بل جميع الدعاة إلى الأمور المعنوية والروحية محترمين لدى جميع الأجيال بلا فرق بين نبي وآخر ومصلح وآخر فالإنسان يجد من صميم ذاته خضوعا تجاههم وإقبالا عليهم. ولهذا لم يكن عجيبا ان تحترم، بل تعشق النفوس الطيبة طبقة الأنبياء والرسل منذ ان شرع الله الشرائع وابتعث الرسل فترى أصحابها يقدمونهم على أنفسهم بقدر ما أوتوا من المعرفة والكمال. ¾ حب النبي في الكتاب: ولوجود هذه الأرضية في نفس الإنسانية والفطرة البشرية تضافرت الآيات والأحاديث على لزوم حب النبي وكل ما يرتبط به. ويقول سبحانه (فالذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي انزل معه أولئك هم المفلحون) «الأعراف - 157». فالآية الكريمة تأمر بأمور أربعة:
1- الإيمان به
2- تعزيره
3- نصرته
4- اتباع كتابه وهو النور الذي انزل معه.
وليس المراد من تعزيره، نصرته لانه قد ذكره بقوله «ونصروه» وانما المراد توقيره وتكريمه وتعظيمه بما انه نبي الرحمة والعظمة، ولا يختص تعزيره وتوقيره بحال حياته بل يعمها وغيرها تماما كما ان الايمان به والتبعية لكتابه لا يختصان بحال حياته الشريفة.

حب النبي «صلى الله عليه وسلم» في السنة:
«من احيا سنتي فقد احبني ومن احبني كان معي في الجنة». وقد روي ابوبكر قال: الصلاة على النبي «صلى الله عليه وسلم «امحق للخطايا من الماء للنار، والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم افضل من عتق الرقاب، وحب رسول الله صلى الله عليه و سلم افضل من عتق الانفس او قال: من ضرب السيف في سبيل الله عز وجل.(1)

مظاهر الحب في الحياة:
فحب الله ورسوله الكريم لا ينفك عن اتباع دينه، والاستنان بسنته، والاتيان باوامره والانتهاء من نواهيه، ولا يعقل ابدا ان يكون المرء محبا لرسول الله صلى الله عليه وسلم اشد الحب، ومع ذلك يخالفه فيما يبغضه ولا يرضيه فمن ادعى حبا في نفس وخالفه في عمله فقد جمع بين شيئين متخالفين متضادين. نعم لا يقتصر اثر الحب في هذا، بل له اثار اخرى في حياة الحب، فهو يزور محبوبه ويكرمه ويعظمه ويزيل حاجته ويذب عنه، ويدفع عنه كل كارثة ويهيىء له ما يريحه ويسره اذا كان حيا. واذا كان المحبوب ميتا او مفقودا حزن عليه اشد الحزن، واجرى له الدموع كما فعل النبي يعقوب - عليه السلام - عندما افتقد ولده الحبيب يوسف - عليه السلام - فبكاه حتى ابيضت عيناه من الحزن وبقى كظيما حتى اذا هب عليه نسيم من جانب والده الحبيب المفقود، هش له وبش، وهفا اليه شوقا وحبا. بل يتعدى اثر الحب عند فقد الحبيب وموته هذا الحد، فنجد المحب يحفظ آثار محبوبه، وكان ما يتصل به من لباسه واشيائه كقلمه ودفتره وعصاه ونظارته. كما يحترم ابناءه واولاده ويحترم مثواه، ويحتفل كل عام بميلاده وذكرى موته ويكرمه ويعظمه حبا به ومودة له. الى هنا ثبت ان حب النبي وتكريمه اصل من اصول الاسلام لا يصح لاحد انكاره ومن المعلوم ان المطلوب ليس الحب الكامن في القلب من دون ان يرى اثره في الحياة الواقعية، وعلى هذا يجوز للمسلم، القيام بكل ما يعد مظهرا لحب النبي شريطة ان يكون عملا حلالا وبالذات ولا يكون منكرا في الشريعة ، نظير: تنظيم السنة النبوية واعراب احاديثها وطبعها ونشرها بالصور المختلفة والاساليب الحديثة. - نشر المقالات والكلمات، وتأليف الكتب المختصرة والمطولة حول حياة النبي وعترته، وانشاء القصائد بشتى اللغات والالسن في حقه، كما كان يفعله المسلمون الاوائل. - اقامة الاحتفالات في مولده والقاء الخطب والقصائد في مدحه وذكر جهوده ودرجته في الكتاب والسنة ، شريطة ألا تقترن تلك الاحتفالات بالمهينات والمحرمات كالغناء مثلا، ومن دعا الى الاحتفال بمولد النبي في اي قرن من القرون فقد انطلق من هذا المبدأ اي حب النبي الذي امر به القرآن والسنة بهذا العمل.

الاحتفال بالمولد النبوي في التاريخ:
هذا هو مؤلف تاريخ الخميس يقول في هذا الصدد : لايزال اهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده ويعملون الولائم ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ويظهرون السرور ويزيدون في المبرات ويعتنون بقراءة مولده الشريف، ويظهر عليهم من كرماته كل فضل عظيم.
(2) - وقال القسطلاني: ومازال اهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده - عليه السلام - ويعملون الولائم ويتصدقون في لياليه بانواع الصدقات ويظهرون السرور، ويزيدون في المبرات ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عظيم، فرحم الله امرأ اتخذ ليالي شهر مولده المبارك اعيادا ليكون اشد علة على من قلبه مرض، واعياء داء.
(3). السنة النبوية وكرامة يوم مولده صلى الله عليه وسلم: 1- اخرج مسلم في صحيحه عن ابي قتاده ان رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صوم يوم الاثنين فقال «ذاك يوم ولدت فيه وفيه انزل علي»
(4) يقول الحافظ ابن رجب الحنبلي - عند الكلام في استحباب صيام الايام التي تتجدد فيها نعم الله على عباده - ما هذا لفظه : ان من اعظم نعم الله على هذه الامة اظهار محمد صلى الله عليه وسلم وبعثته وارساله اليهم كما قال الله تعالى: (لقد من الله على المؤمنين اذ بعث فيهم رسولا من انفسهم) فصيام يوم تجددت فيه هذه النعمة من الله سبحانه على عباده المؤمنين حسن جميل، وهو من باب مقابلة النعم في اوقات تجددها بالشكر .

1- راجع للوقوف على هذه الا حاديث ونظائرها جامع الاصول: نقلا عن صحيح البخاري ومسلم والترمذي والنسائي.. وكنز العمال : ج 2 و 6 و .12 2- الديار -بكري تاريخ الخميس : 1/.323 3- المواهب اللدنية : 1/.148 4- مسلم/ الصحيح : 2/.819

حسن المقصد في عمل المولد

قال العلامة السيوطي(1) : في رسالته( حسن المقصد في عمل المولد) ما نصه: وقد سئل شيخ الاسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد, فأجاب بما نصه : أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها, فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة, وإلا فلا, قال : وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ماثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله تعالى عليه وآله وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجي موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى, فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من اسداء نعمة أو دفع نقمة, ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة, والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة, وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم؟ وعلى هذا فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى عليه السلام في يوم عاشوراء, ومن لم يلاحظ ذلك لايبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر, بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه مافيه, فهذا ما يتعلق بأصل عمله.

وأما مايعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ماتقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وانشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة القلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة, وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ماكان ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لابأس بإلحاقه به, وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى إ هـ.

فتوى الحافظ ابن حجر بجواز عمل المولد

وقول ابن حجر: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح, معناه: البدعة اللغوية, اي مستحدث غير خارج عن قواعد الشريعة بدليل قوله بعده: كان بدعة حسنة وإلا فلا, فان تقسيم البدعة الى حسنة وسيئة عند المحققين انما يكون فيها, واما البدعة الشرعية فلا تقسيم فيها ولاتكون الا سيئة, واقتران عمل المولد بما يخالف الشرع الشريف يصيره منهيا عنه لغيره لا لذاته بدليل كلام ابن حجر الأخير.

(1) جلال الدين عبد الرحمن السيوطي توفي سنة 910 هـ (1505م) في القاهرة

أول من احدث عمل المولد

قال السيوطي: وأول من أحدث عمل المولد صاحب اربل الملك المظفر أبو سعيد(1) كوكبري بن زين الدين على أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد, وكان له آثار حسنة, وهو الذي عمر الجامع المظفري بسفح قاسيون.

قال ابن كثير في تاريخه: كان يعمل المولد الشريف في ربيع الأول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان شهما شجاعا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله تعالى وأكرم مثواه, قال وقد صنف له الشيخ أبو الخطاب بن دحية مجلدا في المولد النبوي سماه: ( التنوير في مولد البشير النذير), فأجازه على ذلك بألف دينار, وقد طالت مدته في الملك الى أن مات وهو محاصر للأفرنج بمدينة عكا سنة ثلاثين وستمائة, محمود السيرة والسريرة.

وقال سبط ابن الجوزي في مرآة الزمان: كان يحضر عنده في المولد أعيان العلماء والصوفية فيخلع عليهم ويطلق لهم, وكان يصرف على المولد في كل سنة ثلاثمائة ألف دينار, وكانت له دار ضيافة للوافدين من أي جهة على أي صفة فكان يصرف على هذه الدار في كل سنة مائة ألف دينار, وكان يفتك من الفرنج في كل سنة أسارى بمائتي ألف دينار, وكان يصرف على الحرمين والمياه بدرب الحجاز في كل سنة ثلاثين ألف دينار, هذا كله سوى صدقات السر, وحكت زوجته ربيعة خاتون بنت أيوب أخت الملك الناصر صلاح الدين الأيوبي أن قميصه كان من كرباس غليظ لايساوي خمسة دراهم قالت فعاتبته في ذلك, فقال لبسي ثوبا بخمسة وأتصدق بالباقي خير من أن ألبس ثوبا مثمنا وأدع الفقير والمسكين إ هـ,

يسوء التيميين جدا اجتماع الناس لقراءة قصة

الأسراء والمعراج والمولد النبوي الشريف

يسوء التيميين جدا اجتماع الناس لسماع قراءة قصة الاسراء والمعراج ليلة أو يوم سبع وعشرين من رجب, ويرون ذلك منكرا عظيما يجب عليهم ازالته فيكبسون, من علموا أنه عمل ذلك ككبسهم محل الدعارة, وحجتهم في كونه منكرا عظيما كحجتهم في عمل مولده الشريف عدم عمل السلف له, وعدم فعل السلف له ليس بدليل على كونه مذموما فضلا عن كونه منكرا عظيما, والحقيقة في كونه عندهم منكرا عظيما تعظيمه صلى الله عليه وسلم بما أكرمه الله تعالى به وشرفه من مخاطبته تعالى له بلا واسطة وما رآه من الآيات الكبرى والخوارق العظيمة, وتعظيمه صلى الله تعالى عليه وآله وسلم بما ذكر بدعة تنافي التوحيد = في زعمهم =, وتستقيم حجتهم = على زعمهم هذا = لو نهى

(1) المظفر ابو سعيد كوكربي بن زين الدين علي استشهد سنة 630 هـ(1232م)بعكا

الله في كتابه العزيز عن تعظيم نبيه صلى الله عليه وسلم بما ذكر, أو نهى هو صلى الله تعالى عليه وآله وسلم في سنته أمته عن تعظيمه بما ذكر, ولم ينه عنه فيهما, فحجتهم داحضة, وزعمهم فاسد, وقد خص علماء الاسلام قصة الاسراء والمعراج بتآليف كثيرة, كما خصوا قصة مولده بذلك وبعد هذا فما يقول العقلاء في هؤلاء الذين يكرهون سماع سيرة النبي صلى الله تعالى عليه وآله وسلم وشمائله الكريمة في المولد وفي المعراج أشد كراهة وينكلون بمن يقرؤها ويسمعها؟ أهم محبون له صلى الله تعالى عليه وآله وسلم أم كارهون, وقد قال صلى الله تعالى عليه وآله وسلم : لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده ووالده والناس أجمعين)؟, فهل قصة مولده والعروج به الى الملأ الأعلى إلا جزء من سيرته صلى الله تعالى عليه وآله وسلم؟, وهل سيرته إلا جزء من سنته عليه الصلاة والسلام؟, وهل الصلاة عليه وسماع سيرته ومدحه إلا من محبته والايمان به صلى الله تعالى عليه وسلم؟؛ نعوذ بالله من زلقات اللسان وفساد الجنان.